Jumat, 08 Februari 2019

ANALISIS - DISIPLIN SEORANG KARYAWAN by LAYANAN KONSULTASI


Annyeong!! 😊

TUGAS INDIVIDU
- Study Case -
"Disiplin seorang Karyawan"
Bimbingan dan Konseling





BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
         Dalam usaha mencapai tujuan perusahaan, permasalahan yang dihadapi oleh manajemen semakin kompleks seiring dengan perkembangan teknologi di era globalisasi ini. Disiplin merupakan fungsi operatif dari manjemen sumber daya manusia yang terpenting, karena semakin baik disiplin karyawan semakin tinggi prestasi kerja dapat dicapainya. Tanpa disiplin yang baik, sulit bagi organisasi mencapai hasil yang optimal. Pada umumnya apabila orang memikirkan tentang disiplin, yang terbayang adalah berupa hukuman hanya sebagaian dari seluruh persoalan disiplin. Dengan disiplin kerja yang baik diharapkan akan terwujudnya lingkungan yang tertib, berdaya guna dan berhasil guna melalui seperangkat peraturan yang jelas dan tepat. Umunya disiplin ini dapat dilihat dari indikator seperti karyawan datang ke tempat kerja tepat waktu, berpakaian rapi,  sopan, memperhatikan etika cara berpakaian sebagaimana mestinya seorang pegawai, karyawan menggunakan alat-alat dan perlengkapan sesuai ketentuan, mereka bekerja penuh semangat dan bekerja sesuai dengan aturan yang ditetapkan perusahaan. Kebiasaan-kebiasaan di atas akan terwujud kalau para karyawannya mempunyai disiplin yang baik. Penanaman disiplin ini tentunya perlu diterapkan oleh seorang pemimpin terhadap bawahannya untuk menciptakan kinerja atau kualitas kerja yang baik. Penerapan disiplin kerja di lingkungan kerja memang awalnya akan dirasakan berat oleh para pegawai, tetapi apabila terus menerus diberlakukan akan menjadi kebiasaan dan disiplin tidak akan menjadi beban berat bagi para pegawai. Disiplin ini perlu diterapkan di lingkunagn kerja, karena seperti telah disinggung di atas bahwa disiplin tidak lahir begitu saja, tetapi perlu adanya pembinaan dalam menegakkan disiplin kerja ini.


BAB II
PEMBAHASAN
1. IDENTITAS UMUM
       Namanya adalah RG ia adalah seorang team leader di salah satu perusahan di Jakarta, ia sudah sekitar 6 bulan menjabat sebagai team leader dengan mananugi 16 karyawan (Agent call center), beliau sering bercerita bahwa memiliki seorang anak (agent) yang kurang disipilin terhadap kinerja/tanggungjawabnya (sering late, membolos, dsb) hal ini membuat RG ingin memperbaiki pola kedisipilinan dari si anaknya tersebut, karena bagaimanapun hal tersebut sangat berpangaruh terhadap performance teamnya. Menurutnya, pemberian punshinment sudah diberikan akan tetapi tidak nampak perubahan yang signifikan oleh karena itu saya akan coba memberikan beberpa analisa yang mungkin dapat digunakan RG. 

2. IDENTITAS PIHAK KETIGA
Dia adalah seseorang yang memiliki masalah dan kemudian masalahnya dipersoalkan oleh konsulti. sebut saja namanya YB, Ia merupakan salah satu karyawan disebuah perusahan swasta di Jakarta yang bergerak dibidang jasa sebagai agant call center, YB sudah bergabung menjadi call center agent hampir satu tahun namun dari pandangan konsulti bahwa YB adalah salah satu anaknya yang sangat outlier, iya berbeda dengan karyawan yang lainnya, jika karyawan lain ingin menunjukan kinerjanya agar bisa mendapatkan jenjang karir yang baik namun YB tetap terdiam di zonanya. 

3. GAMBARAN KONKRIT MASALAH
Karyawan merupakan aset dan roda penggerak bagi perusahaan untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan. Dalam mempekerjakan karyawan, perusahaan tidak cukup hanya membutuhkan karyawan yang berkompeten dari aspek skill, namun juga dari sisi sikap mereka.
Salah satu permasalahan yang banyak ditemukan oleh perusahaan mengenai sikap negatif karyawan yakni seringnya absen tanpa keterangan/informasi, terlambat dsb.
Karyawan memang berhak untuk mengajukan izin atau absen, namun absen yang berlebihan apalagi tanpa keterangan justru akan menghambat kinerja mereka sendiri dan juga perusahaan.
Diambil dari data absensi perusahan bahwa karyawan yang bernama YB, memang memiliki histori absen yang sangat buruk pada kurun waktu 6 bulan saja iya tercatat sebagai salah satu karyawan yang paling banyak Lateness yaitu dengan jumlah 42 kali, bisa dibayangkan dalam 1 bulan dia bisa terlambat kurang lebih 7 kali. Melihat data tersebut tentu sangat menjadi perhatian perusahan, Oleh karena itu konsulti yang bernama RG sangat ingin membantu masalah yang dialami oleh bawahannya agar siklus kerja yang dialaminya menjadi lebih baik tentunya tidak merusak performance teamnya.

A. ARAH PENANGANAN
1. Pendekatan atau metode atau keterampilan konseling yang digunakan
a) Pendekatan
      Berbicara tentang pendekatan, tentu saja ada pendekatan yang harus digunakan untuk menyelsaikan permasalahan pihak ketiga. Karena berbeda dengan konseling perorangan sehingga pendekatan akan dimulai pada konsluti terlebih dahulu, seperti  yang kita tahu bahwa konsultilah yang berperan sangat penting untuk menyelsaikan permasalahan pihak ketiga dan melalui perantara konsulti penanganan masalah pihak ketiga dapat dilakukan tentunya setelah konsluti melakukan konsultasi dengan konselor. Kemudian dilanjutkan dengan pendekatan berikutnya akan dilakukan dalam dua tahapan;
Tahap pertama: akan dilakukan proses konsultasi antara konsulti dengan konselor
Tahap kedua : akan dilakukan proses penanganan masalah oleh konsulti kepada pihak ketiga (Siregar and Fitriyanti 2017)

b) Keterampilan Konseling
      Untuk penanganan masalah pihak ketiga konselor dapat menggunakan metode 3-M yakni (Mendengar dan memperhatikan, memahami serta merespon secara tepat dan positif)
  • Mendengar dan memperhatikan, maksudnya adalah ketika proses konsultasi berlangsung konselor dapat menangkap dari isi pembicaraan, makna pembicaraan, latar dapan dan belakang pembicaraan serta cara konsulti menyampaikan isi pembicaraan
  • Memahami, maksudnya adalah ketika proses konsultasi berlangsung konselor haarus dapat memahami dari apa yang didengar dan dikatakan oleh konsulti serta mampu mengkomunikasikan pemahaman konselor kepada konsulti.
  • Merespon secara tepat dan positif, maksudnya adalah konselor dapat memberikan tanggapan dengan tepat merespon permaslahan yang dialami pihak  ketiga. (Suwandi 2017)


2. Kegiatan Pendukung
  • Aplikasi instrumentasi

     Untuk dapat manangani masalah pihak ketiga RG (Team Leader) yang bertindak sebagai konsulti perlu setidaknya memberikan pengumuman tentang punishment dan rewards hal tersebut dapat berguna untuk membuat karayawan termotivasi dan jera.
  • Konferensi Kasus

        Untuk lebih mendalami permasalahan pihak ketiga tidak ada salahnya jika diadakan konferensi kasus, dari konferensi kasus konsulti dan atasan yang terlibat lainnya dapat melakukan analisis dari permaslahan pihak ketiga, mencari tahu penyebab mengapa iya sering terlambat dsb. Dengan demikian proses konsultasi menjadi lebih efektif.

3. Pentahapan Layanan
a) Perencanaan
Mengidentifikasi konsulti
Mengatur pertemuan
Menetapkan fasilitas layanan
Menyiapkan kelengkapan administrasi

b) Pelaksanaan
Menerima konsulti
Menyelenggarakan penstrukturan konsulti
Membahas masalah pihak ketiga yang dibawa konsulti, dengan tujuan agar konsulti dapat mampu menangani masalah yang dialami pihak ketiga dan dapat memanfaatkan sumber-sumber yang ada
Membina komitmen konsulti untuk dapat menangani masalah pihak ketiga dengan bahasa dan cara-cara konseling

c)Evaluasi
Evaluasi perlu dilakukan untuk mengetahui keterlaksanaan hasil konsultasi.

d)Analisis hasil konsultasi
Analisis juga perlu dilakukan agar dapat menafsirkan hasil dari evaluasi dalam kaitannnya antara konselor, konsulti dan pihak ketiga itu sendiri.

e)Tindak Lanjut
Hal ini juga perlu dilakukan untuk konsultasi lanjutan dengan konsulti untuk membicarakan hasil evaluasi agar dapat menentukan arah dan tindakan selanjutnya.

f)Laporan
Laporan ini perlu dibuat untuk membicarakan laporan yang diperlukan oleh konsulti dan mrndokumentasikan laporan layanan konsultasi. (Ayii 2013).

4. Penilaian
a. Penilaian Proses
Menilai kesungguhan/ semangat / antusias konsulti ketika layanan berlangsung.

b. Penilaian Hasil
Konselor  melakukan penilaian segera terhadap proses pelaksanaan layanan konsultasi:
1) Laiseg
  • Menilai penguasaan materi melalui tanya jawab (pengetahuan/understanding). Dilakukan oleh keonselor kepada konsulti
  • Menilai sikap atau perasaan positif melalui pengamatan dan tanya jawab (Comfortable)
  • Menilai keterampilan/rencana tindakan (action) melalui tanya jawab.

2) Laijapen
Menilai sejauh mana konsulti dapat mengaplikasikan hasil layanan konsultasi kepada pihak ketiga, apakah hasil layanan yang diberikan dapat memberikan dampak kepada pihak ketiga (tepat sasaran).
3) Laijapang
Menilai sejauh mana konsulti bener-bener konsisten dalam melaksanakan hasil layanan konsultasi, apakah sudah terjadi perubahan tingah laku terhadap pihak ketiga, apakah sudah ada perbaikan terhadap masalah pihak ketiga dalam hal ini pihak ketiga sudah dapat mengurangi atau tidak pernah lagi terlambat dalam bekerja.


B. DISKUSI
1. Pengertian Disiplin
      Disiplin kerja dibicarakan  dalam konotasi yang sering kali timbul bersifat negatif. Disiplin lebih dikaitkan dengan sangsi atau hukuman. Contohnya:  bagi karyawan  Bank, keterlambatan masuk kerja (bahkan  dalam satu menit pun) berarti pemotongan gaji yang disepadankan   dengan  tidak masuk  kerja pada hari itu.(Helmi, 1996).
       Disiplin dalam arti yang positif seperti yang dikemukaan  oleh beberapa ahli berikut ini. Hodges (dalam Yuspratiwi,  1990) mengatakan  bahwa disiplin dapat diartikan sebagai sikap seseorang  atau kelompok  yang berniat untuk mengikuti  aturan-aturan  yang telah ditetapkan. Dalam kaitannya  dengan pekerjaan,  pengertian  disiplin kerja adalah suatu sikap dan tingkah laku yang menunjukkan ketaatan karyawan terhadap peraturan organisasi.
     Berdasarkan uraian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa disiplin kerja merupakan   suatu sikap dan perilaku yang berniat untuk mentati segala  peraturan   organisasi    yang  didasarkan atas  kesadaran  diri  untuk menyesuaikan dengan peraturan organisasi. (Helmi, 1996). Berdasarkan  pengertian  tersebut dapat ditarik indikator-indikator disiplin kerja sebagai berikut:
  • Disiplin kerja tidak semata-mata patuh dan taat terhadap penggunaan jam kerja saja, misalnya datang dan pulang sesuai dengan jadwal, tidak mangkir jika bekerja, dan tidak mencuri-curi waktu
  • Upaya dalam mentaati peraturan tidak didasarkan  adanya perasaan takut,atau terpaksa
  • Komitmen dan loyal pada organisasi/perusahan yaitu tercermin dari bagaimana sikap dalam bekerja.

2. Macam-macam Disiplin  Kerja
        Ada dua macam disiplin kerja yaitu disiplin diri (self-disclipine)dan disiplin kelompok.
a. Disiplin Diri
      Disiplin diri menurut Jasin (1989) merupakan disiplin yang dikembangkan atau dikontrol oleh diri-sendiri. Hal ini merupakan manifestasi atau aktualisasi dari tanggungjawab pribadi, yang berarti mengakui dan menerima nilai-nilai yang adadi luar dirinya. Melalui disiplin diri, karyawan merasa bertanggungjawab dan dapat mengatur diri sendiri untuk kepentingan organisasi.
      Disiplin diri merupakan hasil proses belajar (sosialisasi)  dari keluarga dan masyarakat. Penanaman nilai-nilai yang menjuniung disiplin, baik yang ditanamkan oleh orang tua, guru, atau pun masyarakat merupakan bekal positif bagi tumbuh dan berkembangnya disiplin diri.       
b.Disiplin  Kelompok.
         Kegiatan organisasi bukanlah kegiatan yang bersifat individual semata selain disiplin diri masih diperlukan disiplin kelompok. Hal ini didasarkan atas pandangan bahwa didalam kelompok kerja terdapat standar ukuran prestasi yang telah ditentukan. 

3. Faktor-faktor Disiplin Kerja
      Disiplin  kerja merupakan  suatu sikap dan perilaku.  Pembentukan   perilaku jika dilihat dari formula Kurt Lewin adalah interaksi antara factor kepribadian dan faktor lingkungan(situasional).
a. Faktor Kepribadian.
     Faktor yang  penting dalam kepribadian seseorang adalah sistem nilai yang dianut Sistem nilai dalam hal ini yang berkaitan langsung dengan disiplin. Nilai-nilai yang menjunjung  disiplin yang diajarkan atau ditanamkan  orang tua, guru, dan masyarakat akan digunakan  sebagai kerangkaacuan bagi penerapan disiplin di tempat kerja Sistem nilai akan terlihat dari sikap seseorang. Sikap diharapkan  akan tercermin dalam perilaku.
Perubahan  sikap ke dalam perilaku terdapat 3 tingkatan menurut Kelman (Brigham,
1994).
  • Disiplin karena kepatuhan.

       Kepatuhan terhadap aturan-aturan yang didasarkan atas dasar perasaan takut. Disiplin kerja dalam tingkat ini dilakukan semata untuk mendapatkan  reaksi positif dari pimpinan  atau atasan yang memiliki  wewenang.  Sebaliknya, jika pengawas tidak ada di tempat, disiplin kerja tidak tampak.
  • Disiplin karena identifikasi.

     Kepatuhan aturan yang didasarkan pada identifikasi adalah adanya perasaan kekaguman atau penghargaan pada pimpinan. Pemimpin  yang kharismatik  adalah figur yang dihormati, dihargai, dan sebagai pusat identifikasi. Karyawan yang menunjukkan disiplin terhadap aturan-aturan organisasi bukan disebabkan karena menghormati aturan tersebut tetapi lebih disebabkan keseganan pada atasannya. Karyawan merasa tidak enak jika tidak mentaati  peraturan. Penghormatan dan penghargaan karyawan pada pemimpin dapat disebabkan karena kualitas kepribadian yang baik atau mempunyai kualitas profesional yang tinggi dibidangnya Jika pusat identifikasi ini tidak ada, maka disiplin kerja akan menurun, pelanggaran  meningkat frekuensinya.
  • Disiplin karena imemalisasi.

        Disiplin kerja dalam tingkat ini terjadi karena karyawan mempunyai  sistem nilai pribadi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kedisiplinan. Dalam taraf ini, orang dikategorikan  telah mempunyai disiplin diri. 

b. Faktor  Lingkangan
        Disiplin kerja yang tinggi tidak muncul begitu saja tetapi merupakan  suatu proses belajar yang terus-menerus. Proses pembelajaran agar dapat efektif maka pemimpin yang merupakan agen pengubah perlu memperhatikan prinsip-prinsip konsisten, adil, bersikap positif, dan terbuka Konsisten adalah memperlakukan aturan secara konsisten dari waktu ke waktu. Sekali aturan yang telah disepakati dilanggar maka rusaklah sistem aturan tersebut. Adil dalam hal ini adalah memperlakukan seluruh karyawan dengan tidak membeda-bedakan.

4.Tindakan Pendisiplinan
          Disiplin kerja selain dipengaruhi faktor lingkungan kerja (bagaimana budaya disiplin dalam organisasi tersebut) juga dipengaruhi oleh factor kepribadian, maka ketidakhadiran salah satu faktor akan menyebabkan pelanggaran aturan. Jika salah satu karyawan melanggar maka  perlu dilakukan upaya-upaya tindakan pendisiplinan agar prinsip-prinsip sosialisasi disiplin seperti adil dapat dipertahankan.
      Berdasarkan berbagai pengalaman dan pengamatan diorganisasi, pelanggaran terhadap aturan-aturan terjadi sepanjang masa adalah fenomena yang tidak dapat dipungkiri. Peraturan yang dibuat agar dapat berfungsi secara efisien dan efektif perlu ditegakkan dengan cara melakukan tindakan-tindakan dalam upaya pendisiplinkan karyawan. Tindakan pendisiplinan dilakukan  dalam rangka pembinaan dan bukannya penghukuman.
      Tindakan pendisiplinan dapat dilaksanakan dengan menggunakan prinsip dari progressive discipline. Prinsipnya adalah :
  • Hukuman untuk pelanggaran pertama lebih ringan daripada pengulangan  pelanggaran;
  • Hukuman  untuk pelanggaran kecil lebih ringan dari pelanggaran berat.

        Adapun cara-cara yang dapat diterapkan melalui konseling (diskusi informal, teguran lisan, teguran tertulis, skorsing, dan pemberhentian  kerja)

Uraian!!
         Dari penjelasan diatas mengenai teori-teori tentang disiplin dapat kita lihat dan simpulkan bahwa betapa pentingnya kesadaran individu dan lingkungan untuk tetap menjungjung dan menciptakan budaya disiplin pada dunia industry, karena pada dasarnya semua perusahaan sangat menginginkan/mengharapkan karyawannya menjadi yang terbaik, yang patuh terhadap peraturan perusahan dan tentunya dapat menunjukan kinerjanya yang kemudian dapat berkontribusi terhadap target-target perusahan itu sendiri. 
       Melihat buruknya performance salah satu karyawan akan sangat berpengaruh terhadap tujuan perusahan itu sendiri. Disini saya lampirkan data absentisem salah satu karyawan tempat (YB) berkerja, yang dimana dalam interval 6 bulan dia  terlambat sebanyak 42 kali, meski banyak karyawan-karyaawan yang lain, yang mengalami kondisi sama dengan YB  namun RG selaku team leader sangat ingin membantu/membuat YB untuk tidak terlambat lagi. (data absensi karyawan terlampir).

   Melihat data diatas kami selaku penganalisa ingin memberikan beberpa saran yang  kami dapatkan dari beberbagai sumber, kemudian dapat dipergunakan RG untuk membantu menyelesaikan masalah YB, berikut informasinya:
1. Cari tahu penyebabnya
         Ketika ada karyawan yang bermasalah, mungkin cara paling mudah dan praktisnya adalah dengan menjatuhkan sanksi. Sejumlah perusahaan di sini ada yang mengancam karyawan yang terlambat dengan memotong gaji, uang makan, atau hak cuti dengan tujuan untuk membuat  jera. Namun, sebenarnya masalah yang sama sangat mungkin terulang jika HRD atau para atasan tidak tahu pasti apa penyebab di balik kebiasaan buruk karyawan tersebut.
       Sesungguhnya, cara paling efektif untuk menemukan akar permasalahan adalah dengan menggunakan pendekatan personal, yakni tidak ada salahnya RG selaku team leader secara langsung mengkomunikasikan perihal tersebut dengan "si pelaku". Sebab, bisa jadi kebiasaan karyawan ini dipicu oleh masalah pribadi yang serius, atau bahkan masalah dari dalam perusahaan itu sendiri.

2. Mencari solusi bersama
       Setelah akar permasalahannya ditemukan, coba tawarkan solusi berupa langkah-langkah yang bisa diambil oleh karyawan untuk mengubah kebiasaannya. Misalnya, jika penyebab dia sering terlambat adalah karena lalu lintas menuju kantor, Anda bisa bantu mencarikan alternatif transportasi lain atau missal meminta dia untuk kost. Namun jika hal tersebut tidak memungkinkan, maka perusahaan bisa mempertimbangkan untuk memberinya opsi jam kerja lain.
        Di perusahaan rintisan khususnya, hal yang demikian harusnya bukan masalah besar. Selama karyawan mampu  bersikap komunikatif, dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik, serta memiliki komitmen terhadap perusahaan dan timnya, seharusnya hal itu tak akan jadi masalah.

3. Monitor secara aktif
        Anda tentu tidak mungkin setiap saat mengingatkan karyawan agar tiba di kantor tepat waktu. Apalagi kalau jabatan anda harus memikirkan karyawan lain yang harus ditangani. Akan tetapi, setidaknya Anda bisa membuat pengecualian kepada karyawan-karyawan yang memang perlu dipantau atau membutuhkan perhatian khusus.
Untuk upaya maksimal, sebaiknya Anda aktif berkoordinasi dengan supervisor atau rekan satu divisi karyawan tersebut. Setelah itu, lakukan review secara berkala serta berikan feedback atas kemajuan si karyawan, sehingga dia sadar bahwa perusahaan menanggapi persoalan ini dengan sungguh-sungguh.

4. Beri Sanksi/Hukuman
       Pemberian sanksi atau hukuman sangat diperlukan agar dapat membuat para karyawan lebih disiplin atau takut melakukan hal tesebut, hukuman disini bukanlah hukuman yang sekiranya dapat mereka terima kemudian diabaikan begitu saja, sebagai atasan tidak ada salahnya anda memberikan hukuman yang spesifik terhadap bawahan anda, misalnya jika  dia  terus terlambat anda dapat memberikan peringatan berupa surat teguran sampai kepada pemberian surat pengeluaran.

5. Beri penghargaan
     Jika ada sanksi dan hukuman, maka harus ada pula penghargaan. Pemberian penghargaan alias reward oleh perusahaan penting dilakukan agar setiap karyawan mau bekerja lebih giat dan semangat untuk meningkatkan performanya. Nah, hal yang sama juga bisa diterapkan dalam menangani kasus karyawan yang sering datang terlambat. Manajemen dapat memberikan penghargaan secara rutin kepada karyawan-karyawan berprestasi atau yang paling disiplin.
Penghargaan ini tak mesti berupa insentif besar seperti yang banyak diterima oleh pekerja sales. Imbalan sederhana seperti voucher belanja atau makan, hingga piagam penghargaan pun bisa memacu hasrat berkompetisi karyawan untuk menjadi yang terbaik.

6. Evaluasi aturan perusahaan
        Jika kebiasaan datang terlambat tidak lagi dilakukan oleh segelintir karyawan saja, melainkan banyak karyawan dari berbagai divisi, maka ini saatnya mengevaluasi aturan-aturan yang diberlakukan oleh perusahaan itu sendiri. Bisa jadi ketentuan jam kerjanya memang terlalu pagi untuk karyawan, atau tingginya load kerja membuat mereka harus sering lembur sehingga kehabisan tenaga untuk beraktivitas dengan maksimal esok harinya.
       Sesungguhnya tak selamanya aturan yang lebih ketat itu lebih baik. Jika keadaan memang memaksa, tidak ada salahnya Anda ringankan kebijakan perusahaan yang sudah ada. Misalnya, memperbolehkan karyawan kerja remote selama bisa berkomitmen dengan tugas-tugasnya, atau membuat aturan jam kerja yang lebih longgar, di mana karyawan boleh datang ke kantor jam berapa saja asalkan memenuhi total jam kerja yang ditentukan.
        Hal terakhir yang tak kalah penting, perusahaan juga perlu menanamkan kesadaran dalam diri setiap karyawan akan pentingnya tugas-tugas dan tanggung jawab mereka. Bekerja dengan baik dan bertanggung jawab tak hanya bermanfaat bagi perkembangan dan keberlangsungan perusahaan, tapi juga bagi kemajuan diri karyawan itu sendiri. (Beritagar.id 2017).
       Itulah saran-saran yang dapat saya berikan semoga dapat membantu menyelesaikan permasalahan YG selaku pihak ketiga.



BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
       Disiplin di tempat kerja tidak hanya semata-mata patuh dan taat terhadap  sesuatu yang kasat mata, seperti penggunaan seragam kerja, datang dan pulang sesuai jam kerja, tetapi juga patuh dan taat terhadap sesuatu yang tidak kasat mata tetapi juga melibatkan komitmen, baik dengan diri sendiri ataupun komitmen dengan organisasi (kelompok kerja). Jika dikaitkan dengan tujuan organisasi, maka disiplin kerja pada dasamya merupakan upaya untuk menyesuaikan diri dengan aturan organisasi sehingga tercapai tujuan organisasi. Hal itu berarti, terpenuhinya standar ukuran prestasi. Hal ini sesuai dengan pengertian disiplin kerja yaitu suatu sikap dan perilaku yang berniat untuk mentaati segala peraturan organisasi yang didasarkan atas kesadaran diri untuk menyesuaikan dengan peraturan organisasi.  Disiplin kerja merupakan sarana untuk mencapai tujuan organisasi. 

B. Saran
  1. Dalam berkerja harus mematuhi aturan yang ada dalam perusahaan.
  2. Disiplin seharusnya dimulai dari masing-masing individu sehingga dapat menciptakan sumber daya manusia yang unggul.
  3. Diharapkan setiap karyawan mempunyai motivsi kerja yang tinggi dalam berkerja.
  4. Untuk pemberian sanksi atau hukuman terhadap pelanggaran disiplin kerja seharusnya juga harus benar-benar melihat kesalahan yang dilakukan oleh karyawan tersebut.



DAFTAR PUSTAKA

Ayii, Tharie. Guidance and Counseling, Layanan Konsultasi BK. February 27, 2013. http://counselingndut.blogspot.co.id/2013/02/layanan-konsultasi-bk.html (accessed February 11, 2018).
Beritagar.id. 5 cara menangani karyawan yang sering telat. Juni 22, 2017. https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/5-cara-menangani-karyawan-yang-sering-telat (accessed February 15, 2018).
Helmi, A. F. (1996). Disiplin Kerja. Buletin Psikologi, 4(2), 32–41. https://doi.org/10.22146/bpsi.13484
Siregar, Yulinda, and Evi Fitriyanti. Konseling Format Khusus. Jakarta, 2017.
Suwandi, Achmad. TEKNIK DAN PRAKTIK LABORATORIUM KONSELING. JAKARTA: MUJAHID PRESS BANDUNG, 2017.


Sekian!!!
Semoga bermanfaat ya gaess.....
#Konselingdimatamilenial #konselormuda 💚💚💚💚

MAKALAH - PERENCANAAN TES HASIL BELAJAR

Guyss... Kali ini gw bakal share materi tentang Perencanaan Tes Hasil Belajar. Jadi buat kalian yang sudah atau ingin menjadi guru hal ini penting loh!!!
Perencanaan Tes Hasil Belajar bisa kalian gunakan saat kalian misal ingin mengadakan ulangan harian dsb. dan tentu harus direncanakan yahhh... 😊😊


Jumat, 25 Januari 2019

MAKALAH - TAMPILAN KEPUSTAKAAN

MAKALAH

“TAMPILAN KEPUSTAKAAN”
Keg. Pendukung Bimbingan dan Konseling

by: Adi Supriyadi :)



KATA PENGANTAR
             Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan segenap kekuatan dan kesanggupan, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Kegiatan Pendukung Bimbingan dan Konseling.
          Penulis menyadari baik isi maupun penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi perbaikan dimasa yang akan datang. Harapan penulis, semoga makalah ini dapat dipergunakan demi kemajuan ilmu pengetahuan kita bersama. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih.

Jakarta, 21 Januari 2019

 Penulis


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Tampilan Kepustakaan
B. Tujuan
C. Komponen
D. Asas
E. Pendekatan dan Teknik
F. Keterkaitan
G. Operasionalisasi Kegiatan

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran

DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
           Masalah pelayanan bimbingan dan konseling merupakan bagian yang tidak terpisahkan (integral) darikeseluruhan program pendidikan. Program bimbingan menunjang tercapainya tujuan pendidikan yaitu perkembangan individu secara optimal. Oleh karena itu, kegiatan bimbingan dan konseling harus diselenggarakan dalam bentuk kerjasama sejumlah orang untuk mencapai suatu tujuan. Kegiatan itu harus diselenggarakan secara teratur, sistematik dan terarah atau berencana, agar benar-benar berdaya dan berhasil guna bagi pertumbuhan dan perkembangan siswa. Bimbingan merupakan bantuan kepada individu dalam menghadapi persoalan-persoalan yang dapat timbul dalam hidupnya. Bantuan semacam itu sangat tepat jika diberikan di sekolah, supaya setiap siswa lebih berkembang ke arah yang semaksimal mungkin.



      Dalam pemberian kegiatan pendukung bimbingan konseling bahwa terdapat kegiatan kepustakaan. Dalam kegiatan pendukung bimbingan konseling tersebut dilakukan agar setiap permasalahan yang dihadapi siswa dapat diselesaikan sehingga tidak menggangu jalannya proses pembelajaran. Dengan demikian siswa dapat mencapai prestasi belajar secara optimal tanpa mengalami hambatan dan permasalahan pembelajaran yang cukup berarti. Berdasar latar belakang tersebut, makalah ini akan membahas secara khusus tentang tampilan kepustakaan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling.


B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian tampilan kepustakaan dalam kegiatan pendukung BK
2. Apa tujuan tampilan kepustakaan dalam kegiatan pendukung BK
3. Apa komponen tampilan kepustakaan dalam kegiatan pendukung BK
4. Apa asas tampilan kepustakaan dalam kegiatan pendukung BK
5. Apa pendekatan dan teknik tampilan kepustakaan dalam kegiatan pendukung BK
6. Apa keterkaitan tampilan kepustakaan kegiatan pendukung BK dengan layanan BK
7. Bagaimana kegiatan operasional tampilan kepustakaan kegiatan pendukung BK

C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian tampilan kepustakaan dalam kegiatan pendukung BK
2. Mengetahui tujuan tampilan kepustakaan dalam kegiatan pendukung BK
3. Mengetahui komponen tampilan kepustakaan dalam kegiatan pendukung BK
4. Mengetahui asas tampilan kepustakaan dalam kegiatan pendukung BK
5. Mengetahui pendekatan dan teknik tampilan kepustakaan dalam kegiatan pendukung BK
6. Mengetahui keterkaiatan tampilan kepustakaan kegiatan pendukung BK dengan layanan BK
7. Mengetahui kegiatan operasional tampilan kepustakaan kegiatan pendukung BK



BAB II
PEMBAHASAN

 A. Pengertian
        Tampilan kepustakaan yaitu kegiatan menyediakan berbagai bahan pustaka yang dapat digunakan peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan sosial, kegiatan belajar, dan karir atau jabatan.

        Kegiatan pendukung tampilan kepustakaan membantu klien dalam memperkaya dan memperkuat diri berkenaan dengan permasalahan yang dialami dan dibahas bersama konselor pada khususnya, dan dalam pengembangan diri pada umumnya. Pemanfaatan tampilan kepustakaan diarahkan oleh konselor dalam rangka pelaksanaan pelayanaan dan atau klien secara mandiri mengunjungi perpustakaan untuk mencari dan memanfaatkan sendiri bahan-bahan yang ada di perpustakaan sesuai dengan keperlua. Tampilan kepustakaan merupakan kondisi sangat memungkinkan klien memperkuat dan memperkaya diri dengan atau tanpa bantuan konselor




B. Tujuan
  1. Melengkapi subtansi pelayanan konseling berupa bahan-bahan tertulis dan/atau rekaman lainnya yang ada dalam tampilan kepustakaan
  2. Mendorong klien memanfaatkan bahan-bahan yang ada dalam tampilan kepustakaan untuk memperkuat pengentasan masalah dan pengembangan diri pihak-pihak yang bersangkutan
  3. Mendorong klien untuk dapat memanfaatkan pelayanan konseling secara lebih langsung dan berdaya guna.


C. Kompenen

1. Konselor
        Konselor adalah tenaga profesi pelayanan konseling yang menyelenggarakan berbagai jenis layanan konseling dan kegiatan pendukungnya. Berkenaan dengan TKp. Konselor menyediakan setidak-tidaknya memiliki akses dengan berbagai bahan yang ada diperpustkaan yang disiapkan oleh konselor sendiri, atau perpustakaan lembaga tempat konselor bekerja, atau diperpustakaan lainnya yang dimungkinkan untuk diakses.

2. Peserta Kegiatan
       Peserta yang terkait dengan kegiatan TKp adalah individu-individu, baik sendiri-sendiri maupun yang terkait dengan kelompok atau kelas tertentu yang berkepentingan dengan pengaksesan terhadap bahan kepustakaan tertentu.

3. Bahan Tampilan Kepustakaan

         Bahan tampilan kepustakaan sangat bervariasi, baik dalam jenis materinya maupun tingkat kesulitan dalam pemahamannya. Jenis materi yang dimaksudkan itu tersebar dalam semua bidang pelayanan konseling, yaitu;

a. Bidang pengembangan pribadi, yaitu bacaan yang menyangkut tugas perkembangan pada tiap tahap perkembangan, potensi diri, kemampuan berpikir dan merasa, suasana hati, cara-cara menjaga diri, upaya penampilan diri dan lain-lain.
b. Bidang pengembanagan hubungan sosial, seperti bacaan tentang cara berkomunikasi, kiat-kiat berhubungan dengan orang lai, kepemimpinan, kehidupan berkelompok, nilai-nilai sosial dan moral, secara berorganisasi, dan lain-lain
c. Bidang pengembangan kegiatan belajar, seperti bacaan tentang cara-cara belajar yang baik, kia-kiat mengikuti pelajaran dalam kelas, mempersiapkan dan mengikuti ujian, menyusun makalah, mengerjakan PR, dan lain-lain.
d. Bidang perencanaan dan pengembangan pilihan karir dan hidup berpekerjaan, misalnya bacaan tentang keterkaitan antara bakat, minat dan pekerjaan dll.
e. Bidang pengembangan hidup berkeluarga, misalnya bacaan tentang persiapan berumah tangga, reproduksi sehat, keluarga sakinah, hubugan suami istri, dan lain-lain.
f. Bidang pengembangan hidup beragama, misalnya bacaan tentang keimanan dan ketakwaan, riwayat para nabi, pahala dan dosa, hubungan antara manusia dengan manusia, dan lain-lain.


D. Asas
     Asas kegiatan mendasari kegiatan TKp dalam hal ini, individu atau klien yang bersangkutan, baik pada tahap pra, dalam, maupun pasca konseling perlu memotivasi diri untuk mengakses konseling perlu memotivasi diri untuk mengakses tampilan kepustakaan yang ada. Tanpa kegiatan yang dilakukan sendiri tidak akan mungkin TKp terlaksanakan.

Asas kegiatan tersebut sedapat-dapatnya diiringi dengan asas kusukarelaan, kegiatan yanng dilakukan dengan sukarela, apalagi dengan senang hati, akan membawakan hasil yang lebih baik.


E. Pendekatan dan Teknik
      Kegiatan TKP pada dasarnya dilaksanakan sendiri oleh individu atau klien yang bersnagkutan. Jika diperlukan, konselor dapat memberikan arahan awal tentang materi yang perlu dibaca atau dipelajari, prosedur atau cara mengakses, serta petunjuk teknis lainnnya berkenaan dengan pemanfaatan bahan-bahan kepustakaan.
1. Format

Dalam pelaksanaan kegiatan TKp konselor perlu memperhatikan kelima format layanan konseling.
a. Format Individual, pada dasarnya TKp dilaksanakan sendiri-sendiri oleh individu atau klien yang bersangkutan
b. Format Kelompok, kegiatan TKp dapat dilaksanakan terhadap sekelompok individu. Sekelompok siswa misalnya diminta mempelajari bahan tertentu diperpustakaan.
c. Format Klasikal, kegiatan TKp dalam kelompok dapat diperlukan menjadi kegiatan klasikal. Semua siswa dalam satu kelas diminta mempelajari bahan tertentu diperpustakaan.
d. Format Lapangan, kegiatan TKp dapat terselanggara dalam format lapangan, dalam arti individu yang menjadi peserta mecari sendiri bahan-bahan kepustakaan ditempat yang berbeda.
e. Format Kolaboratif, format ini dilaksanakan oleh konselor dalam rangka pengadaan bahan-bahan kepustakaan, agar menjadi ada dan semakin lengkap, serta kemudahan dalam prosedur dan cara-cara pengaksesan bahan-bahan tersebut oleh siapapun juga, terutama klien dan peserta TKp lainnya.

2. Teknik
Pelaksanaan TKp oleh individu atau klien secara mandiri memerlukan teknik atau arahan yang tepat agar kegiatan tersebut efektif. Teknik dan arahan tersebut adalah;
a. Teknik mencari bahan yang diperlukan, dalam hal ini dapat memanfaatkan katalog, daftar subjek dalam buku, dan lain-lain.
b. Teknik membaca cepat dan tepat, melalui kemampuan 5M;
§ Membaca yang tertulis dengan akurat
§ Memahami maksud dan makna yang dibaca
§ Meringkas intisari bacaan
§ Mempertanyakan materi yang dibaca
§ Memperkaya materi yang dibaca dengan bacaan atau bahan-bahan lain.
c. Arah aplikasi materi yang dibaca, bahan yang diambil dan dibaca dari kumpulan tampilan kepustakaan akan memperoleh makna yang lebih besar apabila dapat  diterapkan dalam praktik.


3. Waktu

         Waktu pelaksanan kegiatan TKp yang bersifat mandiri dapat diatur oleh individu atau klien yanng bersangkutan. Sedang kegiatan TKp yang merupakan arahan atau penugasan dalam rangka layanan konseling terentu waktu pelaksanaannya di sesuaikan dengan arahan atau penugasan yang dimaksud.


F.   Keterkaitan
         Kegiatan TKp terkait dengan jenis-jenis layanan konseling, berkenaan dengan tahap-tahap pra, dalam, dan pasca konseling.
  1. Layanan Orientasi, bahan-bahan dalam tampilan layanan kepustakaan dapat dipakai utnuk memperkaya wawasan dan informasi tentang objek-objek yang menjadi sasaran kegiatan layanan orientasi.
  2. Layanan Informasi, sejalan dengan keterkaitan TKp terhadap layanan Orin, bahan-bahan tampilan kepustakaan dalam layanan info, memperjelas, memperluas, serta lebih bermanfaat.
  3. Layanan penempatan dan penyaluran, dengan bahan-bahan data TKp layanan penempatan dan penyaluran dapat lebih memahami latar belakang dan arah penempatan/penyaluran yang dijalaninya sehingga lebih bermanfaat.
  4. Layanan penguasaan konten, materi pada TKp akan memperkaya konten yang dipelajari dan memperkuat penguasaan konten yang dimaksud.
  5. Layanan konseling perorangan, bahan-bahan dalam TKp memperjelas dan memperluas wawasan klien sehingga pembahasan dalam layanan konseling perorangan lebih kaya dan mendalam.
  6. Layanan bimbingan kelompok, dalam mempersiapkan pelaksanaan layanan Bkp anggota kelompok dapat ditugasi untuk membaca terlebih dahulu materi tertentu dalam rangka topik tugas ataupun bebas yang akan menjadi pokok bahasan BKp
  7. Layanan konseling kelompok, dalam layanan K.Kp penggunaan TKp sejalan dengan penggunaan dalam layanan K.Kp pelaksanaan TKp untuk klien dapat dibantu oleh para peserta kegiatan kelompok lainnya.
  8. Layanan konsultasi, Dalam layanan KSI konselor dapat mengarahkan kepada konsulti untuk membaca dan mencermati bahan-bahan yang ada dalam tampilan kepustakaan berkenaan dengan permasalahan klien yang dikonsultasikan oleh konsulti kepada konselor.
  9. Layanan mediasi, dalam rangka layanan mediasi, kepada pihak-pihak yang bertikai terlebih dahulu dapat disajikan (oleh konselor) bahan-bahan tertentu utnuk dicermati oleh pihak-pihak tersebut.


G.  Operasionalisasi Kegiatan
          Kegiatan TKp terutama yang diselenggarakan dalam proses layanan konseling, perlu penanganan yang sebaik-baiknya sehingga hasilnya optimal.
1. Persiapan dan Pengorganisasian
Dalam tahap persiapan yang perlu dilakukan konsleor, yaitu;
a) Menyampaikan kepada klien atau peserta layanan tentang perlunya kegiatan TKp.
b) Menetapkan bahan-bahan dalam tampilan  kepustakaan yang perlu diakses, dan menunjukan dimana bahan-bahan tersebut berada
c) Menyiapkan klien untuk mampu mengakses bahan-bahan tersebut dengan cara dan teknik yang benar.
d) Menetapkan waktu kegiatan mengakses bahan-bahan dan bentuk perolehan yang diharapkan
e) Menetapkan (kontrak) kapan hasil TKp itu dibicarakan dengan konselor.

2. Monitoring Pelaksanaan
            Monitoring pelaksanaan kegiatan TKp biasanya dilaksanakan secara tidak langsung, karena kegiatan TKp pada umumnya dilaksanakan secara mandiri oleh individu atau klien. Bahkan, monitoring kegiatan TKp sering kali tidak dapat dilakukan konnselor, karena selain dilakukan secara mandiri ditempat dan pada waktu yang berbeda-beda, bentuk dan cara kegiatannya ditentukan diri sendiri oleh individu yang bersangkutan.
Monitoring yang lebih langsung dapat dilaksanakan misalnya terhadap siswa yang dipersiapkan untuk menjalani layanan BKp yang ditugasi menyiapkan diri dengan bahan untuk topik tugas tertentu.


3. Penilaian dan Tindak Lanjut
          Penilaian dan tindak lanjut hasil kegiatan TKp pada umumnya terlaksana pada kegiatan layanan yang berlanjut, terutama layanan yang menggunakan teknik kontrak. Lebih jauh, evaluasi dan tindak lanjut  terhadap kegiatan TKp dapat menjadi bagian dari penilaian jangka pendek (laijapen) dan penilaian jangka panjang (laijapan) layanan konseling.
Penilaian hasil kegiatan TKp yang bersifat mandiri dilakukan oleh individu atau klien yang bersangkutan. Penilaian ini mengacu kepada kemanfaatan hasil TKp sampai ke taraf aplikasinya dalam praktik. Hasil TKp dalam rangka penugasan atau arahan tertentu dievaluasi sesuai dengan penugasan dan arahan tersebut. Kegiatan TKp dalam rangka teknik kontrak dievaluasi dalam proses layanan konseling lanjutan.

BELAJAR MERANCANG KARIR UNTUK MASA DEPAN

MODUL
Belajar Merancang Karir Untuk Masa Depan



          Masa depan seperti apa yang kita inginkan? Lima tahun lagi kita ingin jadi apa? Hal ini dapat menjawab tentang karir apa yang akan kita geluti nantinya. Pertanyaan sederhana, tetapi sering kali kita sulit menjawabnya. Mungkin kita belum memikirkan karena bagi kita hidup ini ya dijalani saja apa adanya.



 Image result for perencanaan karir siswa

         Namun, begitukah hidup yang kita inginkan?
Tentu kita pernah dengar sebuah ungkapan, … semua yang ada saat ini dan akan datang dimulai dari mimpi. Ungkapan ini menggambarkan betapa pentingnya memiliki mimpi akan masa depan. Contohnya, dulu Thomas Alfa Edison memimpikan betapa berartinya kalau di dunia ini ada penerangan (lampu). Lalu, dia mulai merancang berbagai usaha sehingga dapat menciptakan lampu. Jadi kapan kita harus merencakan Karir?
Dari sekarang
        Mempersiapkan masa depan karir bisa kita mulai dari sekarang. Pahami bahwa masa depan itu sendiri merupakan kehidupan. Apa yang kita lakukan adalah demi cita-cita. Jadi, masa depan itu muara dari semua yang kita lakukan dan yang menggerakkan kita untuk terus maju.

A.  Arti dan Pentingnya Perencanaan Karir
           Memperoleh karir atau pekerjaan yang layak dan sesuai harapan, merupakan salah satu aspek  terpenting dalam kehidupan manusia yang sehat, di mana pun dan kapan pun mereka berada. Betapa orang akan merasa sangat susah dan gelisah jika tidak memiliki pekerjaan yang jelas, apalagi kalau sampai menjadi penganggur. Demikian pula banyak orang yang mengalami stres dan frustrasi dalam hidup ini karena masalah pekerjaan.
Menggapai karir yang gemilang tidak didapatkan hanya dengan melewati proses semalam. Ia membutuhkan kerja keras, aktualisasi diri yang mendalam, dan kemauan untuk terus belajar. Seorang professional yang berhasil dalam karirnya adalah ia yang telah merintisnya sejak muda. Para praktisi SDM mengatakan, ”Orang yang berhasil pada umumnya akan melakukan analisa serta mengetahui apa yang menjadi tujuan karirnya, apa rencana serta tindakan yang diambil untuk mencapai karir yang diharapkan”.

Pengertian Karir:
    Pekerjaan tidak serta merta merupakan karier. Kata pekerjaan (work, job, employment) menunjuk pada setiap kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa, sedangkan kata karier (career) lebih menunjuk pada pekerjaan atau jabatan yang ditekuni dan diyakini sebagai panggilan hidup, yang meresapi seluruh alam pikiran dan perasaan seseorang, serta mewarnai seluruh gaya hidupnya.Pada dasarnya yang dimaksud dengan karir adalah suatu pilihan profesi atau pekerjaan yang menjadi tujuan bagi seorang individu. Karir juga dapat diartikan sebagai perkembangan dari perjalanan kehidupan kerja seseorang yang digeluti secara serius dan ditingkatkan semaksimal mungkin
Karir tertiggi (puncak karir) tidak dapat dicapai secara instant, melainkan harus dengan perencanaan matang. Cara yang paling efektif untuk meniti karir adalah dengan menggali bakat atau potensi sedini mungkin. Masa remaja merupakan saat yang paling tepat untuk meniti karir yakni dengan mengenal bakat dan minat yang dimilikinya. Sehingga nantinya seseorang tersebut tidak hanya akan berhasil meniti karir tersebut dengan sempurna, melainkan juga menggapainya dengan optimal.

B.  Apakah perencanaan karir itu?
         Perencanaan karir adalah suatu aktivitas atau kegiatan yang dilakukan secara terarah dan terfokus demga berdasar pada potensi (minat, bakat, keyakinan, nilai-nilai) yang kita miliki untuk mendapatkan sumber penghasilan yang memungkinkan kita untuk maju dan berkembang baik secara kualitas (hidup) maupun kuantitas (kesejahteraan).
Sesunguhnya dalam perencanaan karir ini yang ditekankan bukan hanya pada pekerjaan apa yang nantinya kita peroleh, tetapi pada persiapan-persiapan yang kita lakukan. Salah satun persiapan yang sangat penting adalah memilih pendidikan dan keterampilan yang akan dikembangkan. Misalnya kalau saat ini kita berada di bangku Sekolah Menengah Atas (SMP) maka kita nantinya harus bisa menentukan kira-kira sekolah yang akan dipilih SMA atau SMK, serta jurusan yang akan dipilih.
Oleh karena itu poin-poin penting dalam Perencanaan meliputi hal-hal sebagai berikut:

  1. Menyadarkan diri sendiri terhadap peluang-peluang, kendala-kendala, pilihan-pilihan, dan konsekuensi yang akan dihadapi.
  2. Mengidentifikasi tujuan-tujuan hidup terutama yang berkaitan dengan karir,
  3. Penyusunan program pendidikan, keterampilan dan pengalaman-pengalaman yang bersifat pengembangan dalam meraih tujuan karir.

C. Langkah-Langkah Dalam Merencanakan Karir
  1. Mengembangkan rencana karir. Pikirkanlah mengenai apa yang akan kita lakukan dan langkah-langkah strategis apa yang dibutuhkan untuk melakukan hal-hal yang kita inginkan.
  2. Tinjaulah bakat atau kemampuan serta minat yang kita miliki. Pikirkan secara serius dan mendalam hal-hal yang kita sukai, mampu kita kerjakan dengan baik, serta nilai-nilai yang kita yakini kebenarannya.
  3. Cobalah mencari tahu jenis-jenis karir atau pekerjaan yang mendekati dengan diri kita, yaitu sesuai bakat serta minat yang kita miliki, latar belakang pendidikan, kondisi kerja serta lingkungan yang kita harapkan, serta hal-hal lain yang akan memberikan kejelasan arah dan fokus karir/pekerjaan kita.
  4. Selanjutnya, bandingkanlah keterampilan dan minat yang kita miliki dengan jenis karir atau pekerjaan yang akan kita pilih. Jadi karir atau pekerjaan yang paling sesuai dan dekat dengan diri kita sangat mungkin menjadi karir atau pekerjaan kita di masa depan.
  5. Kembangkanlah tujuan karir/ pekerjaan yang kita pilih. Hal ini akan menjadi panduan yang sangat penting bagi kita untuk menyusun langkah-langkah strategis selanjutnya.
  6. Ikutilah pendidikan atau pelatihan yang mendekatkan kita dengan tujuan karir atau pekerjaan yang telah kita buat.
  7. Hal penting yang tidak boleh dilewatkan adalah masalah keuangan. Kita mungkin akan berfikir mengenai sumber-sumber dan besarnya uang yang kita butuhkan untuk mewujudkan karir kita.
  8. Cobalah minta nasehat dari beberapa sumber yang anda yakini dapat membantu anda memberikan penjelasan dan arahan megenai karir/pekerjaan pilihan anda.
C. Layanan Bimbingan Karir di Sekolah
        Layanan bimbingan karir merupakan layanan yang diberikan pembimbing kepada klien (siswa) dalam memecahkan masalah karir yang dihadapi klien (siswa). Dibawah ini akan diuaraikan beberapa pendapat tentang bimbingan karir yaitu sebagai berikut:
1.   Bimbingan karir merupakan salah satu jenis bimbingan yang berusaha membantu individu dalam memecahkan masalah karir ( pekerjaan ) untuk memperoleh penyesuaian sebaik-baiknya dengan masa depannya.
2.   Bimbingan karir merupakan proses membantu seseorang untuk mengerti dan menerima gambaran tentang diri pribadinya dan gambaran tentang dunia kerja diluar, mempertemukan gambaran tentang diri tersebut dengan dunia kerja itu. Dan pada akhirnya dapat :
a.   Memilih bidang pekerjaan
b.   Menyiapkan diri untuk bidang pekerjaan
c.   Membina karir dalam bidang tersebut
d.   Bimbingan karir adalah program pendidikan yang merupakan layanan terhadap siswa agar siswa:
-     Mengenal dirinya sendiri
-     Mengenal dunia kerja
-     Dapat memutuskan apa yang diharapkan dari pekerjaan dan
-     Dapat memutuskan bagaimana bentuk kehidupan yang diharapkan disamping pekerjaan untuk mencari nafkah.
3.   Bimbingan karir membantu siswa dalam mengambil keputusan mengenai karir atau pekerjaan utama yang mempengaruhi hidupnya dimasa mendatang. 
Faktor yang menyebabkan siswa kesulitan dalam pemilihan karir antara lain:
  • Faktor yang ada dalam diri siswa

            Diantaranya adalah: tingkat intelegensi, sikap mental,Jenis kelamin, agamam dan minat terhadap suatu karir.
  • Faktor di luar diri siswa

      Diantaranya; tingkat ekonomi keluarga, minat orang tua dan kondisi sosial masyarakat.
Dari kedua faktor tersebut diatas merupakan faktor yang mendasar, namun masih banyak lagi faktor yang menyertai kesulitan siswa dalam memilih karir, salah satu faktornya adalah faktor kebutuhan, seperti apa yang disampaikan oleh A.H. Maslow yang dikutip oleh Moh. Suryamenyatakan bahwa kebutuhan manusia terdapat lima macam yaitu:
- Kebutuhan jasmani yaitu kebutuhan yang erat kaitannya dengan kebutuhan jasmani.
- Kebutuhan rasa aman yaitu memperoleh rasa aman, bebas dari rasa takut, ketegangan, kelaparan dan kehilangan.
- Kebutuhan sosial yaitu kebutuhan untuk memiliki dan butuh bantuan dari orang lain misalnya, bergaul, berorganisasi, berkelompok dan saling mengenal.
- Kebutuhan untuk memperoleh penghargaan yaitu untuk mempertahankan harga dirinya dan kebutuhan untuk dihargai, misalnya memperoleh Penghormatan.
- Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri yaitu: untuk menampakkan dirinya sebagai seorang pribadi yang khas (berbeda dari orang lain).


Latihan 1.
1. Buatlah pohon karir sesuai dengan cita-cita anda!
2. Jelaskan pengertian karir menurut pendapat anda!
3. Apakah anda ingin melanjutkan sekolah ke SMA atau SMK? Berikan alasannya!
4. Sebutkan profesi pekerjaan apa saja yang anda ketahui!
5. Apakah informasi yang diberikan Guru Bimbingan Konseling di sekolah dapat membantu perencanaan karir anda? Berikan alasannya!


DAFTAR PUSTAKA

BK SMPN 3 Malang. Merencanakan Karir di Masa Depan. http://bimkarier-konselor03.blogspot.co.id/ di akses pada 20 Maret 2016.
Alamendah. (2014). “Bimbingan Konseling Karir.” [Online]. Tersedia:
http://alamendah.wordpress.com/2010/08/01/ /.
Islah. Merencanakan Karir di Masa Depan.
https://islahzone.wordpress.com/2012/12/04/merencanakan-karir-di-masa-depan/ Diakses pada 20 Maret 2016.
http://www.maribelajarbk.web.id/2015/01/cara-merencanakan-masa-depan.html diakses pada 20 Maret 2016.
Laila, Noor Alfu. 2013. Peran Lingkungan terhadap Optimalisasi Perkembangan Bahasa Anak Usia     Dini. Mu’adalah Jurnal Studi Gender dan Anak Vol. 1 No. 1, Januari–Juni 2013, 71-80


#Bkdimatamilenial
#bk.milenial

See u dear..........

POLA 17 PLUS DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING


Holla.. holla Gaesss ✋... Welcome back in my blog channel wkwkw :)
Sudah seperti Youtubers ya gaess... But it's okay!! Just fun yes :)


Ok Kali ini Gw sama temen2 gw mau coba sharing tentang Pola 17+ Bimbingan dan Konseling, mungkin buat kalian yang baru tertarik atau sudah tertarik dengan Bimbingan dan Konseling hal ini perlu kalian ketahui loh, karena ternyata ini bermanfaat banget loh!!! serius dah... :) 

POLA 17 PLUS BIMBINGAN DAN KONSELING




     Bimbingan dan konseling pola 17+ adalah progam bimbingan dan konseling atau pemberian bantuan kepada peserta didik melalui 6 bidang bimbingan, 9 layanan, dan 6 layanan pendukung yang sesuai dengan norma yang berlaku.
       
       Secara umum tujuan pola bimbingan dan konseling 17+ adalah memberikan arah kerja / sebagai acuan dan evaluasi kerja bagi guru BK / konselor, membantu peserta didik mengenal bakat , minat , dan kemampuannya, serta memilih dan menyesuaikan diri dengan kesempatan, pendidikan, dan merencanakan karier yang sesuai dengan tuntutan kerja.

Image result for gambar pola 17+
Gambar: Pola 17+



:: 6 BIDANG BIMBINGAN & KONSELING ::

1. BID. PENGEMBANGAN PRIBADI
Merupakan usaha bimbingan, dalam menghadapi dan memecahkan masalah pribadiseperti penyesuaian diri, menghadapi konflik dan pergaulan, serta sebagai seperangkat usaha bantuan kepada peserta didik agar dapat mengahadapi sendiri masalah-masalah pribadi dan sosial yang dialaminya.

2. BID. PENGEMBANGAN HUBUNGAN SOSIAL
Untuk mewujudkan pribadi yang taqwa, mandiri, dan bertanggungjawab.

3. BID. PENGEMBANGAN KEGIATAN BELAJAR
Untuk mewujudkan pribadi pekerja yang produktif.

4. BID. PENGEMBANGAN KARIR
Untuk mencapai tujuan dan tugas perkembangan pendidikan.

5. BID. PENGEMBANGAN KEHIDUPAN BERKELUARGA
Merupakan usaha bimbingan dalam memecahkan masalah keluarga untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah.

6. BID. PENGEMBANGAN KEHIDUPAN BERAGAMA
Agar mampu menghadapi dan memecahkan masalah-masalah yang berkaitan tentang keagamaan,dan dibantu dicarikan alternatif bagi pemechan masalahnya yang berkenaan dengan keagamaan, serta agar siswa memiliki pemahaman yang baik dan benar tentang ajaran agamanya,memecahkan masalah yang berkaitan dengan agama dilingkungan sekolah,keluarga dan masyarakat.

:: 9 LAYANAN BIMBINGAN & KONSELING ::
1.   LAYANAN ORIENTASI
Layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu, sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai, yang berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.

2. LAYANAN INFORMASI
Layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar, pergaulan, karier, pendidikan lanjutan). Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu, dalam bidang pribadi, sosial, belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.

3. LAYANAN PENEMPATAN DAN PENYALURAN
Layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, kegiatan ko/ekstra kurikuler, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat, minat dan segenap potensi lainnya. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan.

4. LAYANAN PENGUASAAN KONTEN
Layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan.

5. LAYANAN KONSELING PERORANGAN
Layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.

6. LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK
Layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok.

7. LAYANAN KONSELING KELOMPOK
Layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.

8. LAYANAN KONSULTASI
Layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik.

9. LAYANAN MEDIASI
Layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antar mereka.

:: 5 SATUAN PENDUKUNG ::
1. Aplikasi Instrumentasi
Yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang diri peserta didik (klien), keterangan tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan yang lebih luas. Pengumpulan data ini dapat dilakukan denagn berbagai cara melalui instrumen baik tes maupun nontes.

2. Himpunan Data
Yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan peserta didik (klien). Himpunan data perlu dielenggarakan secara berkelanjutan, sistematik, komprehensif, terpadu, dan sifatnya tertutup.

3. Konferensi Kasus
Yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk membahas permasalahan yang dialami oleh peserta didik (klien) dalam suatu forum pertemuan yang dihadiri oleh berbagai pihak yang diharapkan dapat memberikan bahan, keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan tersebut. Pertemuan ini dalam rangka konferensi kasus bersifat terbatas dan tertutup.

4. Kunjungan Rumah
Yaitu kegiatan pendukudng bimbingan dan konseling untuk memperoleh data, keteranang, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik (klien) melalui kunjungan ke rumahnya. Kegiatan ini memerlukan kerjasama yang penuh dari orang tua dan anggota keluarga klien yang lainnya.

5. Alih tangan kasus
Yaitu kegiatan pendukudng bimbingan dan konseling untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas masalah yang dialami peserta didik (klien) dengan memindahkan penanganan kasus dari satu pihak ke pihak lainnya. Kegiatan ini memerlukan kerjasama yang erat dan amntap antara berbagi pihak yang dapat memberikan bantuan dan atas penanganan masalah tersebut (terutama kerjasama dari ahli lain tempat kasus itu dialihtangankan).

Selesai!!!

Semoga bermanfaat ya gaesss... 
See u di blog selanjutnya ya :)
#bk.milenial


Sumber:https://allaboutcounselingcom.wordpress.com/2017/09/29/pola-17-plus-bimbingan-dan-konseling/

MAKALAH - BK BELAJAR

MAKALAH "BK BELAJAR" BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada dasarnya bimbingan belajar adalah inti dar...