Sabtu, 09 Februari 2019

MAKALAH - PENGEMBANGAN PENDIDIKAN PADA ANAK BERBAKAT

MAKALAH
“Pengembangan Pendidikan Pada Anak Berbakat”



Mata Kuliah:
Dasar – Dasar Pemahaman Anak Berbakat

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
        Perhatian terhadap pendidikan anak berbakat sebenarnya sudah dikenal sejak 2000 tahun yang lalu. Misalnya, Plato pernah menyerukan agar anak-anak berbakat dikumpulkan dan dididik secara khusus karena mereka ini diharapkan bakal menjadi pemimpin negara dalam segala bidang pemerintahan. Oleh karena itu, mereka dibekali ilmu pengetahuan yang dapat menunjang tugas mereka (Rohman Natawijaya, 1979).
         Demikian pula di Indonesia, kehadiran mereka sudah dikenal sejak dulu. Banyak sekolah yang menerapkan sistem loncat kelas atau dapat naik ke kelas berikutnya lebih cepat meskipun waktu kenaikan kelas belum saatnya. Perhatian yang lebih serius dan formal tersurat dalam UUSPN No. 2 Tahun 1989 bahwa peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh pendidikan khusus untuk mengembangkan potensi anak-anak tersebut secara optimal.
Anak berbakat tidak mengalami kecacatan, seperti anak tunanetra, tunarungu, dan tunagrahita. Walaupun diantara anak berbakat ada yang menyandang kelainan, tetapi kelainan itu bukan pada terhambatnya kecerdasan. Agar anak berbakat yang mempunyai potensi unggul tersebut dapat mengembangkan potensinya dibutuhkan program dan layanan pendidikan secara khusus. Mereka lahir dengan membawa potensi luar biasa yang berarti telah membawa kebermaknaan hidup. Oleh karena itu, tugas pendidikan adalah  mengembangkan kebermaknaan tersebut secara optimal sehingga mereka dapat berkiprah dalam memajukan bangsa dan negara.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Definisi Anak Berbakat itu?
2. Apa saja Karakteristik Anak Berbakat itu?
3. Apa saja Kebutuhan Pendidikan Anak Berbakat itu?
4. Bagaimana Jenis Layanan bagi Anak Berbakat?

C. Tujuan
1. Diharapkan dapat memahami dan menjelaskan definisi anak berbakat.
2. Diharapkan dapat memahami dan menjelaskan karakteristik anak berbakat.
3. Diharapkan dapat memahami dan menjelaskan kebutuhan pendidikan anak berbakat.
4. Diharapkan dapat memahami dan menjelaskan jenis layanan bagi anak berbakat.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Anak Berbakat
      Pengertian dan definisi mengenai anak berbakat sangat beragam. Keragaman itu sangat tergantung dari perkembangazn pandangan masyarakat terhadap keberbakatan. Beberapa definisi keberbakatan dapat dikemukakan sebagai berikut.
         Pengertian bakat atau aptitude berbeda dengan kemampuan (ability) dan prestasi (achervement). Bakat diartikan sebagai kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih agar dapat terwujud. (Munandar dalam Psikologi Umum,180). Bakat adalah kemapuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan atau ketermapilan yang relative bisa bersifat umum ataupun khusus. (Alex Sobur,181)
       Kemampuan adalah daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukkan bahwa suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukkan bahwa suatu tindakan dapat dilaksanakan sekarang dan dikembangkan dimasa mendatang apabila kondisi latihan dikemukanan secara optimal sedangkan bakat memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat dilakukan di masa yang akan datang.
     Bakat menentukan prestasi sesorang. Misalnya orang yang memiliki bakat matematika dan diperkirakan akan mampu mencapai prestasi tinggi dalam bidang itu. Jadi prestasi merupakan perwujudan dari bakat dan kemapuan. Prestasi yang sangat menonjol dalam salah satu bidang, mencerminkan bakat yang unggul dalam bidang tertentu.
    Anak berbakat anak-anak yang diidentifikasi oleh orang-orang profesional, yang karena kemampuannya yang sangat menonjol, dapat memberikan prestasi yang tinggi.
       Syamsu Yusuf dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, 158 mengatakan bahwa anak berbakat adalah mereka yang tingkat integelensinya jauh diatas rata-rata anggota kelompoknya, yaitu IQ diatas 120. Ahli lain yang menggunakan IQ sebagai kriteria dalam menentukan anak berbakat adalah, Terman yang konsepnya mengenai keberbakatan hampir sekitar setengah abad mendominasi psikologi dan pendidikan. Torrance melaporkan hasil studinya mengenai kemampuan berfikir kreatif dalam kaitannya dengan keberbakatan. Ia mengemukakan bahwa apabila keberbakatan semata-mata diidentifikasi berdasarkan taraf intelegensi, maka sekitar 70% anak-anak yang tinggi kreatifitasnya tidak akan termasuk ke dalam kelompok mereka yang disebut anak berbakat.
        Munandar dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan mengemukakan anak berbakat itu lebih mengacu kepada anak yang menunjukkan kemampuan unjuk kerja yang tinggi dalam aspek intelektual, kreativitas, seni, kepemimpianan atau bidang akademik tertentu.
Dari beberapa pendapat ahli maka anak berbakat adalah anak yang memiliki kemampuan yang lebih menonjol dari aspek intelektual, kreatif, seni, kepemimpianan atau bidang akademik tertentu yang menghasilkan prestasi tinggi.
           Istilah yang melukiskan anak-anak berbakat, cerdas atau cemerlang yaitu genius, talented, gipted dan bright atau superior. Persamaan dari istilah-istilah tersebut adalah penyimpangan ke atas dari rata-rata. Sedangkan perbedaannya adalah:
  1. Genius digunakan pada mereka yang memiliki kemampuan unggul berhasil mencapai prestasi yang luar biasa, memberikan sumbangan yang orisinal dan bermutu, serta mempunyai makna yang universal atau mantap.
  2. Talented suatu bakat khusus yang tidak selalu menghasilkan prestasi yang luar biasa, tidak perlu orsini atau dampak yang universal.
  3. Gipted atau berbakat mempunyai kesamaan dengan genius, karena keduanya berkaitan dengan kualitas intelektual, namun berbakat belum tentu terwujud dalam suatu karya unggul yang mendapat pengakuan universal. Jadi tidak semua anak berbakat merupakan anak genius.
  4. Bright atau superior merujuk pada karakteristik seseorang yang memiliki intelegensi yang tinggi.

       Menurut Marland dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, anak berbakat adalah anak yang memiliki kemampuan tinggi dalam aspek:
  1. Kemampuan umum yang tinggi, yaitu kecerdasan individu yang berada pada posisi di atas rata-rata.
  2. Bakat akademik khusus, yaitu kemampuan individu dalam bidang-bidang tertentu seoerti bahasa dan matematika.
  3. Kreatif dan berfikir produktif, yaitu kemempuan yang menghasilkan gagasan baru dengan memadukan elmen-elmen yang biasanya dianggap sebagai suatu yang terpisah-pisah atau tdak sejenis dan keampuan mengembangkan keterampialan baru yang mengandung nilai-nilai sosial.
  4. Kepemimpianan, yaitu kemampuan untuk mengarahkan individu-individu atau kelompok untuk mengambil keputusan, memetapkan tindakan bersama atau mencapai tujuan tertentu.
  5. Kemampuan dalam bidang seni, yaitu memiliki bakat khusus dalam bidang seni rupa, musik, tari, lukis, drama dan lainnya.

         Sementara menurut Renzulli dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan mengemukakan bahwa ada tiga dimensi yang menandai keberbakatan, yaitu:
  1. Kecerdasan, kemampuan umum yang biasanya diukur dengan tes intelegensi di atas rata-rata.
  2. Kreativitas, kemampuan memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah
  3. Komitmen terhadap tugas, tanggung jawab, semangat, atau motivasi yang tinggi untuk menyelesaikan suatu tugas.
  4. Keterkaitan antara tiga ciri keberbakatan itu dapat digambarkan menggunakan diagram.

B. Karakteristik Anak Berbakat
          Karakteristik anak berbakat ditinjau dari segi akademik, sosial/emosi, dan fisik/kesehatan.
1. Karakteristik Akademik
           Roe, seperti dikutip oleh Zaenal Alimin (1996) mengidentifikasikan karakteristik keberbakatan akademik adalah:
a. memiliki ketekunan dan rasa ingin tahu yang benar,
b. kerajinan membaca,
c. menikmati sekolah dan belajar.
     Sedangkan Kitano dan Kirby (1986) yang dikutip oleh Mulyono Abdurrahman (1994) mengemukakan karakteristik keberbakatan bidang akademik adalah:
a. memiliki perhatian yang lama terhadap suatu bidang akademik khusus,
b. memiliki pemahaman yang sangat maju tentang konsep, metode, dan terminologi dari bidang akademik khusus,
c. mampu mengaplikasikan berbagai konsep dari bidang akademik khusus  yang dipelajari pada aktivitas-aktivitas bidang lain,
d. kesediaan mencurahkan sejumlah besar perhatian dan usaha untuk mencapai standar yang lebih tinggi dalam suatu bidang akademik,
e. memiliki sifat kompetitif yang tinggi dalam suatu bidang akademik dan  motivasi yang tinggi untuk berbuat yang terbaik, dan
f. belajar dengan cepat dalam suatu bidang akademik khusus.
Salah satu contoh yang digambarkan oleh Kirk (1986) bahwa  seorang anak berbakat berusia 10 tahun, ia memiliki kemampuan akademik dalam hal membaca sama dengan anak normal usia 14 tahun, dan berhitung sama dengan usia 11 tahun, anak ini memiliki keberbakatan dalam membaca.  
2. Karakteristik Sosial/Emosi
           Ada beberapa ciri individu yang memiliki keberbakatan sosial, yaitu:
a. diterima oleh mayoritas dari teman-teman sebaya dan orang dewasa,
b. keterlibatan mereka dalam berbagai kegiatan sosial, mereka memberikan sumbangan positif dan konstruktif,
c. kecenderungan dipandang sebagai juru pemisah dalam pertengkaran dan pengambil kebijakan oleh teman sebayanya,
d. memiliki kepercayaan tentang kesamaan derajat semua orang dan jujur,
e. perilakunya tidak defensif dan memiliki tenggang rasa,
f. bebas dari tekanan emosi dan mampu mengontrol ekspresi emosional sehingga relevan dengan  situasi,
g. mampu mempertahankan hubungan abadi dengan teman sebaya dan orang dewasa,
h. mampu merangsang perilaku produktif bagi orang lain, dan
i. memiliki kapasitas yang luar biasa untuk menanggulangi situasi sosial dengan cerdas, dan humor.
       Dicontohkan pula oleh Kirk bahwa anak yang berbakat dalam hal social dan emosi, bahwa seorang anak berusia 10 tahun memperlihatkan kemampuan penyesuaian sosial dan emosi (sikap periang, bersemangat, kooperatif, bertanggung jawab, mengerjakan tugasnya dengan baik, membantu temannya yang kurang mampu dan akrab dalam bermain). Sikap-sikap yang diperlihatkannya itu sama dengan sikap anak normal usia 16 tahun.    
3. Karakteristik Fisik/Kesehatan
            Dalam segi fisik, anak berbakat memperlihatkan
a. Memiliki penampilan yang menarik dan rapi
b. Kesehatannya berada lebih baik  atau di atas rata-rata, (studi longitudinal Terman dalam Samuel A. Kirk, 1986).
Dicontohkan pula oleh Kirk bahwa seorang anak berbakat usia 10 tahun memiliki tinggi dan berat badan sama dengan usianya. Yang  menunjukkan perbedaan adalah koordinasi geraknya sama dengan anak normal usia 12 tahun. Mereka juga memperlihatkan sifat rapi.
Karakteristik anak berbakat secara umum, seperti yang dikemukakan oleh Renzulli, 1981 (dalam Sisk,  1987) menyatakan bahwa keberbakatan (giftedness) menunjukkan keterkaitan antara 3 kelompok ciri-ciri, yaitu
a. Kemampuan kecerdasan jauh di atas rata-rata,
b. Kreativitas tinggi
c. Tnggung jawab atau pengikatan diri terhadap tugas (task commitment). Masing-masing ciri mempunyai peran yang menentukan.
Seseorang dikatakan berbakat intelektual jika mempunyai inteligensia tinggi. Sedangkan kreativitas adalah sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, memberikan gagasan baru, kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan yang baru antara unsur-unsur yang sudah ada. Demikian pula berlaku bagi pengikatan diri terhadap tugas. Hal inilah yang mendorong seseorang untuk tekun dan ulet meskipun mengalami berbagai rintangan dan hambatan  karena  ia  telah  mengikatkan  diri  pada  tugas  atas  kehendaknya sendiri.

C. Kebutuhan Pendidikan Anak Berbakat
          Keanekaragaman yang ditemui diantara anak-anak termasuk anak berbakat mencerminkan jenis dan jumlah adaptasi yang perlu diadakan sekolah untuk memenuhi kebutuhan khusus mereka. Kebutuhan pendidikan anak berbakat dapat ditinjau dari 2 kepentingan berikut.
1. Kebutuhan Pendidikan dari Segi Anak Berbakat itu Sendiri
Oleh karena potensi yang dimiliki anak berbakat sedemikian  hebatnya jika dibandingkan dengan anak biasa maka untuk mengembangkan potensinya mereka membutuhkan hal-hal berikut ini.
a. Anak berbakat membutuhkan peluang untuk mencapai aktualisasi potensinya melalui penggunaan fungsi otak yang efektif dan efisien. Mereka tetap membutuhkan pengembangan fungsi otaknya walaupun telah memiliki otak yang hebat. Apalagi penggunaan kapasitas otak itu hanya 5% dari fungsi keseluruhannya (Conny Semiawan, 1995). Melalui pendidikan terjadi interaksi antara potensi bawaan individu dengan lingkungannya.
b. Membutuhkan peluang untuk dapat berinteraksi dengan anak-anak lainnya sehingga mereka tidak menjadi manusia yang memiliki superioritas intelektual saja tetapi merupakan manusia yang mempunyai tingkat penyesuaian yang tinggi pula.
c. Membutuhkan peluang untuk mengembangkan kreativitas dan motivasi internal untuk belajar berprestasi karena usaha pengembangan anak berbakat tidak semata-mata hanya pada aspek kecerdasan saja.
Dengan memenuhi kebutuhan tersebut diharapkan anak berbakat  tidak hanya menjadi insan yang superior karena gagasan dan pemikirannya yang cemerlang, tetapi ia juga dapat menjadi manusia harmonis dalam bergaul. Anak berbakat adalah individu yang utuh yang dalam kesehariannya membutuhkan orang lain.

2. Kebutuhan Pendidikan yang Berkaitan dengan Kepentingan Masyarakat
Kehadiran anak berbakat dengan potensinya yang bermakna  sangatlah merugikan jika potensi yang dimiliki anak tersebut tidak diakomodasi dan didorong untuk berkembang sehingga dapat berguna dalam pengembangan bangsa dan negara. Oleh karena itu, pendidikan anak berbakat membutuhkan dukungan dari masyarakat, antara lain sebagai berikut.
a. Membutuhkan kepedulian dari masyarakat terhadap pengembangan potensi anak berbakat. Apabila kepedulian ini kurang atau tidak ada maka potensi anak tersebut menjadi mubazir, maksudnya anak berbakat berada di bawah potensi kemampuannya. Kepedulian ini digambarkan oleh Moh. Amin (1996) dengan mengatakan bahwa sejak dahulu Plato telah menyerukan agar anak-anak berbakat dididik secara khusus karena mereka ini diharapkan akan menjadi pemimpin dalam segala bidang.
b. Membutuhkan pengembangan sumber daya manusia berbakat. Usaha pengembangan sumber daya manusia berbakat merupakan pengakomodasian serta pengembangan aset bangsa karena anak-berbakat ini dapat menjadi penopang dan pendorong kemajuan bangsa karena potensi yang dimilikinya berkembang secara optimal.
c. Anak berbakat membutuhkan keserasian antara kemampuannya dengan pengalaman belajar. Oleh karena itu, pendidikan perlu mewujudkan lingkungan yang kaya pengalaman sehingga dapat memenuhi perkembangan anak berbakat. Anak-anak berbakat memiliki perspektif masa depan yang jauh berbeda dengan orang lain.
d. Membutuhkan usaha untuk mewujudkan kemampuan anak berbakat secara nyata (rill) melalui latihan yang sesuai dengan segi keberbakatan anak berbakat itu sendiri

D. Jenis-Jenis Layanan Bagi Anak Berbakat
Beberapa komponen yang perlu diperhatikan dalam memberi layanan kepada anak berbakat adalah sebagai berikut.
1. Komponen sebagai Persiapan Penentuan Jenis Layanan
Sebelum menentukan jenis layanan pendidikan bagi anak berbakat, perlu memperhatikan beberapa hal yang penting, antara lain sebagai berikut.
a. Pengidentifikasian anak berbakat
Mengidentifikasi anak berbakat bukanlah hal yang mudah. Oleh  karena banyak anak-anak berbakat di sekolah tidak menampakkan bakat mereka dan tidak dipupuk. Banyak diantara mereka berasal dari golongan ekonomi rendah, mengalami masalah emosional yang menyamarkan kemampuan intelektualnya atau subkultur yang menekan kemampuan bicara. Langkah pertama dalam pengenalan anak berbakat adalah menentukan alasan atau sebab untuk mencari mereka. Jika kita memilih kelompok matematika maka pendekatan akan berlainan kalau  kita mencari siswa yang mempunyai keterampilan menulis kreatif atau untuk kemampuan seni pementasan, kepemimpinan, dan lain-lain.
Alat-alat yang digunakan dalam identifikasi berfokus pada beberapa hal, seperti yang dikemukakan oleh Kirk (1986), yaitu kelancaran (kemampuan untuk memberikan jawaban bagi pertanyaan yang diberikan), kelenturan (kemampuan untuk memberikan berbagai macam jawaban atau beralih dari satu macam respons ke respons yang lain), dan kemurnian (kemampuan untuk memberikan respons yang unik dan layak). Namun, hal-hal yang ditemukan oleh guru, orang tua, perlu dicek dengan tes standar dan pengukuran kemampuan objektif lainnya oleh para ahli dalam bidang tersebut.
Selanjutnya Renzulli, dkk., seperti dikutip Conny Semiawan (1995) mengemukakan bahwa identifikasi anak berbakat harus mewakili kawasan-kawasan kemampuan intelektual umum, komitmen terhadap tugas, dan kreativitas. Menurutnya kinerja seseorang secara khusus dipengaruhi oleh motivasi yang muncul dalam menyelesaikan tugasnya dan ketiga dimensi itu saling berhubungan. Prosedur identifikasi  dengan sendirinya memperhatikan faktor intelektual dan non intelektual. Pendekatan Renzulli ini penting karena dapat membedakan anak-anak berbakat dari mereka yang biasa-biasa saja terutama dilihat dari faktor motivasi dan kreativitas.
b. Tujuan umum pendidikan anak berbakat
Tujuan program pendidikan anak berbakat adalah (1) anak-anak berbakat harus menguasai sistem konseptual yang penting ada pada tingkat kemampuan mereka dalam berbagai bidang mata pelajaran, (2) anak-anak berbakat harus mengembangkan keterampilan dan strategi yang memungkinkan mereka menjadi mandiri, kreatif, dan memenuhi kebutuhan dirinya, dan (3) anak-anak berbakat harus mengembangkan suatu kesenangan dan kegairahan tentang belajar yang akan membawa mereka melalui kerja keras dan kerutinan yang merupakan bagian proses yang tidak dapat dihindarkan (Samuel A. Kirk, 1986).
c. Kebutuhan pendidikan anak berbakat baik itu kepentingan individu anak berbakat itu sendiri maupun untuk kepentingan masyarakat
Dari analisis komponen-komponen tersebut diciptakan jenis  layanan pendidikan yang merupakan alternatif dalam implementasi pendidikannya.

2. Komponen sebagai Alternatif Implementasi Jenis Layanan
Berikut ini akan dikemukakan hal-hal yang berkaitan dengan implementasi layanan pendidikan anak berbakat.

a. Ciri Khas Layanan yang sesuai dengan Kebutuhan Anak Berbakat
1) Adaptasi lingkungan belajar
Ada beberapa alasan dalam mengadaptasi lingkungan belajar, yaitu (a) untuk memberi kesempatan anak berbakat dalam berinteraksi dengan teman yang seusia, (b) untuk memudahkan guru dalam mengajar karena berkurangnya keanekaragaman siswa, dan (c) untuk menempatkan siswa berbakat dengan pengajar yang yang mempunyai keahlian khusus dalam menangani anak berbakat. Sehubungan  dengan adaptasi lingkungan belajar ini Gallagher, dkk. (1983) mengemukakan ada beberapa cara sebagai berikut.
a) Kelas pengayaan, guru kelas melaksanakan suatu program tanpa bantuan petugas dari luar.
b) Guru konsultan, pelaksanaan program pengajaran dalam kelas biasa dengan bantuan konsultan khusus yang terlatih.
c) Ruangan sumber belajar, siswa berbakat meninggalkan ruang kelas biasa ke ruangan sumber untuk menerima pengajaran dari guru yang terlatih.
d) Studi mandiri, siswa memilih proyek-proyek dan mengerjakannya di bawah pengawasan seorang guru yang berwewenang.
e) Kelas  khusus,  siswa  berbakat  dikelompokkan  bersama-sama  di sekolah dan diajar oleh guru yang dilatih khusus.
f) Sekolah  khusus,  siswa  berbakat  menerima  pengajaran  di  sekolah khusus dengan staf guru yang dilatih secara khusus.
     Selanjutnya,  Utami  Munandar  (1996)  mengemukakan  bahwa  alternatif lingkungan  belajar/tempat belajar  anak  berbakat  dapat  berupa  sekolah unggulan  yang  dapat  menampung  anak-anak berprestasi  tinggi  dari daerah  sekitarnya.  Di  sekolah  unggulan  itu  mereka  dihadapkan  dengan program yang memungkinkan akselerasi dan pengayaan.
2) Adaptasi Program
Adaptasi program dilakukan dalam beberapa cara, diantaranya  sebagai berikut.
a) Melalui percepatan/akselerasi siswa
Stanley (1979) mengemukakan beberapa cara percepatan, yaitu:
ü pemasukan ke sekolah pada usia dini, anak yang memperlihatkan kematangan sosial dan intelektual diperbolehkan memasuki Taman Kanak-kanak pada usia lebih muda dari anak pada umumnya;
ü pelompatan tingkat/kelas, anak dengan cepat naik kelas  pada kelas/tingkat  berikutnya  walaupun  belum  saatnya  kenaikan  kelas;
ü percepatan materi, anak mengikuti materi standar dengan waktu yang lebih singkat,  misalnya  belajar di Sekolah Menengah Pertama hanya  dua  tahun;
ü penempatan  yang  maju,  siswa  mengambil pelajaran  di  Perguruan  Tinggi  sementara  ia  masih  di  Sekolah Menengah Atas; dan
ü pemasukan ke Perguruan Tinggi yang lebih awal, seorang siswa yang sangat maju bisa masuk Perguruan Tinggi dalam usia 13, 14 atau 15 tahun.
b) Melalui pengayaan
Pengayaan isi (mata pelajaran) memberi kesempatan pada siswa untuk mempelajari materi secara luas, seperti menggunakan ilustrasi khusus, membuat contoh-contoh, memperkaya pandangan, dan menemukan sesuatu.
c) Pencanggihan materi pelajaran
Materi pelajaran harus menantang anak berbakat untuk menggunakan pemikiran  yang tinggi agar mengerti ide, dan memiliki abstraksi yang tinggi. Materi pencanggihan ini tidak terdapat dalam kurikulum/program pendidikan biasa.
d) Pembaruan   
Pembaruan isi pelajaran adalah pengenalan materi yang biasanya tak akan muncul dalam kurikulum umum karena keterbatasan  waktu atau abstraknya sifat isi pelajaran. Tujuan pembaruan ini ialah untuk membantu anak-anak berbakat menguasai ide-ide  yang  penting. Jenis pembaruan materi pelajaran, misalnya guru  mengajak siswa untuk memikirkan konsekuensi kemajuan teknologi (AC, komputer, TV, dan lain-lain).
e) Modifikasi kurikulum sebagai alternatif
ü Kurikulum plus
Herry Widyastono (1996) mengemukakan bahwa kurikulum plus dikembangkan dari kurikulum umum (nasional) yang diperluas dan diperdalam (pengayaan horizontal dan vertikal), agar siswa mampu memanifestasikan (mewujudkan) potensi proses berpikir tingkat tinggi (analisis, sintesis, evaluasi, dan pemecahan masalah) yang dimiliki, tidak sekadar proses berpikir tingkat rendah (ingatan/pengetahuan, pemahaman, dan penerapan), seperti anak pada umumnya yang sebaya dengannya.
ü Kurikulum berdiferensiasi
Conny Semiawan (1995) mengemukakan bahwa kurikulum berdiferensiasi dirancang dengan mengacu pada penanjakan kehidupan mental melalui berbagai program yang akan menumbuhkan kreativitas serta mencakup berbagai pengalaman belajar intelektual tingkat tinggi. Kurikulum ini  tidak memerlukan sekolah khusus anak berbakat. Dalam  model ini, anak berbakat yang menonjol dalam bidang tertentu bisa memperoleh materi yang lebih banyak sehingga bakatnya menonjol. Dalam pengayaan, bukan materi dan jam pelajarannya yang ditambah secara kuantitatif tetapi yang paling penting adalah suatu desain yang secara kualitatif berbeda dengan anak normal.
Kurikulum ini memungkinkan guru untuk mendiferensiasi kurikulum tanpa mengganggu kelancaran pembelajaran di dalam  kelas.

b. Strategi Pembelajaran dan Model Layanan
1. Strategi pembelajaran
Strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak berbakat sangat mendorong anak tersebut untuk berprestasi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan strategi pembelajaran adalah sebagai berikut.
a) Pembelajaran anak berbakat harus diwarnai dengan kecepatan dan tingkat kompleksitas yang lebih sesuai dengan kemampuannya yang lebih tinggi dari anak normal.    
b) Pembelajaran pada anak berbakat tidak saja mengembangkan kecerdasan intelektual semata, tetapi pengembangan kecerdasan emosional juga patut mendapat perhatian. Utami Munandar (1996) mengemukakan bahwa kreativitas dan motivasi internal anak berbakat perlu dikembangkan untuk belajar berprestasi.
c) Pembelajara anak berbakat berorientasi pada modifikasi proses, isi/content,  dan  produk.  Sehubungan  dengan  itu,  M. Soleh  YAI (1996) mengemukakan 3 jenis modifikasi sebagai berikut. Modifikasi  proses  adalah  metodologi  atau  cara  guru  mengajar termasuk  cara  mempresentasikan  isi  materi  kepada  siswa  yang berorientasi  kepada  berpikir  tingkat  tinggi,  banyak  pilihan, mengupayakan penemuan, mendukung penalaran atau argumentasi, kebebasan  memilih,  interaksi  kelompok  dan  simulasi,  serta kecepatan dan variasi proses. Modifikasi  isi  adalah  modifikasi  dalam  materi  pembelajaran  baik berupa  ide,  konsep  maupun  fakta.  Pembelajaran  dimulai  dari  hal yang konkret, menuju ke hal yang kompleks, abstrak dan bervariasi. Modifikasi  produk  atau  hasil  adalah  produk  kurikulum  yang  tidak dapat  dipisahkan  dari  isi  materi  dan  proses  pembelajaran  yang dikembangkan  dan  merupakan  hasil  dari  proses  yang  dievaluasi untuk menentukan efektivitas satu program.
2. Model-model layanan
Model-model  layanan  yang  dimaksud  dalam  tulisan  adalah  ini  model yang  mengarah  pada  perkembangan  anak  berbakat  diantaranya  layanan perkembangan  kognitif,  nilai,  moral,  kreativitas  dan  bidang  khusus. Berikut  ini  akan  dikemukakan  apa  dan  bagaimana  implementasi  dari model-model itu (adaptasi dari Conny Semiawan, 1995):
a) Model layanan kognitif-afektif
Sasaran akhir  dari  model  ini  adalah  pengembangan  bakat.  Oleh karena  itu,  dalam  proses  pembelajaran  sangat memperhitungkan kreativitas  dan  sisi  kognitif  afektif  yang  merupakan  dinamika dari proses perkembangan bakat tersebut. Metode atau cara dalam melaksanakan model tersebut, yaitu dengan cara  pemberian stimulus  langsung  pada  belahan  otak  kanan,  dan metode  tak  langsung dengan menghayati pengalaman belajar atau percakapan tertentu secara mendalam.
b) Model layanan perkembangan moral
Sasaran  model  ini  adalah  tercapainya  kemandirian  moral  atau tanggung  jawab  moral  yang  diperoleh  melalui  sosialisasi  dan individualisasi dalam kaitan manusia sebagai  makhluk individu dan makhluk  sosial.  Sebagai  makhluk  individu  ia  berhak  mencipta, menyatakan  diri  secara  mandiri,  namun  sebagai  makhluk  sosial  ia harus  dapat  meletakkan  kepentingannya  dalam  kepentingan masyarakat. Pendidikan moral anak berbakat seyogianya harus jauh lebih luas dari yang diperoleh di kelas. Usaha mengimplementasikan model  ini  adalah  sekolah  harus  menciptakan  suasana  dengan mengacu  pada  kemampuan  berpikir,  yang  dilakukan  sesuai  dengan prinsip-prinsip  dan kepedulian terhadap  yang  lain.  Oleh  karena  itu, Vare  dalam  Khatana,  1992  mengusulkan  strategi  untuk mengembangkan  moral  adalah:  mengadakan  diskusi  dengan  teman sebaya  mengenai  dilema  atau  klarifikasi  nilai,  membaca  hasil penelitian tentang moral, bermain peran, simulasi, drama kreatif dan permainan,  penelitian  kelompok  atau  kelas  mengenai  ketentuan hukum  (strategi  yuridisprudensial),  dan  diskusi  dengan  lingkungan masyarakat tentang  isu sekolah.
c) Model perkembangan nilai
Model ini memperhatikan  peranan  kehidupan  afektif (emosional) sehari-hari,  seperti  rasa  senang,  sedih,  takut,  bangga,  malu, rasa bersalah,  dan  bosan.  Perasaan-perasaan  ini  membentuk  sikap seseorang  dan  sebaliknya  perkembangan  nilai  erat  hubungannya dengan perkembangan sikap dan merupakan kerangka pembentukan moral  seseorang.  Oleh  karena  itu,  strategi  pengembangan nilai erat kaitannya dengan strategi perkembangan moral.
         
d) Layanan berbagai bidang khusus
Bidang-bidang khusus ini adalah kepemimpinan, seni rupa dan seni pertunjukan.
1) Kepemimpinan
Kepemimpinan menurut Stogdill (1977) adalah kemampuan, hasil belajar, tanggung jawab, partisipasi, status, dan situasi.
ü Kemampuan kepemimpinan terkait dengan inteligensia, kepekaan dan penilaian. Sifat-sifat ini dapat diamati dalam kegiatan  ekstrakurikuler  (bagi  anak  remaja).
ü Hasil belajar, terkait dengan pengetahuan, kemajuan persekolahan  atau  data  authentic.  Hal  ini  dapat  dilatih  dibangku  sekolah  melalui  berbagai  pengalaman  belajar  dan dapat dilihat dari kinerja pesertanya.
ü Tanggung jawab, terkait dengan prakarsa, percaya diri dan keinginan  melebihi  teman-temannya.  Ini  dapat  dilatih melalui tugas kelompok, dan tugas konstruksi tertentu yang dapat  menampilkan  keinginan  untuk  melebihi,  dan mudah dapat diciptakan.
ü Partisipasi, menunjuk pada keaktifan, keluwesan, bergaul, kerja sama, kemampuan menyesuaikan diri dan humor. Kemampuan itu dapat dilatihkan melalui berbagai permainan, seperti penugasan membuat karangan tentang diri sendiri yang dapat menampilkan sifat kepemimpinan tersebut.
ü Status, terkait dengan potensi sosial ekonomis dan popularitas. Hal ini dapat diamati dalam pergaulan sehari-hari.
ü Situasi, terkait dengan tingkat mental, keterampilan, kebutuhan, dan interest. Biasanya informasi tentang kualitas situasi ini diperoleh melalui analisis sosiometrik.
2) Kelompok seni dan pertunjukan
Seni rupa dan pertunjukan adalah sifat-sifat pribadi khusus dan produktivitas. Pendekatan biasanya dilakukan melalui pengamatan dan layanan bersifat khusus melalui kinerja atau pertunjukan. Layanan perilaku musik dapat diadakan dengan menyelesaikan melodi musik menurut fantasinya sendiri, meniru langsung tanpa tanda baca not balok di alat music tertentu, latihan irama, mengingat lagu atau melodi tertentu tersebut.

c. Layanan perkembangan kreativitas
Pengembangan kreativitas terdiri dari beberapa tingkat, seperti berikut.
1) Tingkat kreativitas pertama, ditandai oleh fleksibilitas, originalities, serta keterbukaan  terhadap  masalah  yang  disertai  keberanian  mengambil risiko.  Latihannya  adalah  berilah  secarik  kertas  kepada  anak  dengan pertanyaan ”Siapa Anda”. Tugasilah anak menulis sembilan jawaban tentang dirinya yang tidak boleh dilihat oleh temannya. Suruhlah mereka periksa  secara  cermat,  barangkali  ada  jawaban  yang  ingin  diubahnya karena dirasakannya tidak sesuai dengan dirinya. Setelah selesai bagilah murid menjadi 5 atau 8 orang per kelompok dan suruhlah mereka saling membicarakan  jawabannya.  Tujuannya  adalah  untuk  saling  menghayati keunikan dirinya. Selanjutnya dapat diberi pertanyaan secara terbuka.
2) Tingkat  kreativitas  kedua,  ditandai  oleh  adanya  pemetaan  masalah dengan  mencari  pemecahan  masalah  secara  teratur  (organized). Misalnya, “Lima hari sekolah” dapat dipetakan dalam kelompok masalah dan bagaimana perlakukan subjek terhadap masalah tersebut. Kemudian, guru  dapat  memberikan  beberapa  pertanyaan  yang  menuntut  pemikiran evaluatif  atau aneh  seperti  persamaan dan  perbedaan raksasa  dan  orang kerdil.
3) Tingkat  kreativitas  ketiga,  dengan  mengadakan  perumusan  masalah berdasarkan asumsi tertentu,  seperti mencari berbagai informasi tentang hal  tertentu,  analisis  desain  yang  sistemik  serta  meramalkan  sesuatu (hipotesis), membuktikan kebenaran suatu ramalan, dan membuat projek mandiri tentang topik tersebut. Selanjutnya, dapat dibuka berbagai pusat kegiatan,  misalnya  pusat  sains  dan  pusat  pengembangan  pengabdian pada masyarakat.

d. Stimulasi imajinasi dan proses inkubasi
Hal  lain  yang  perlu  dilakukan  adalah  mengembangkan  stimulasi imajinasi kreatif dan proses inkubasi.
1) Stimulasi  imajinasi  kreatif  adalah  proses  mental  manusiawi  yang menjadikan  semua  kekuatan  motif  berprestasi  untuk  menstimulasi  dan memberi  energi  pada  tindakan  kreatif.  Hal  ini  dapat  dilakukan  dengan mengembangkan  fungsi  otak  kiri  dan  faktor  khusus,  seperti  kualitas suasana  rumah,  pola  asuh  ibu-anak  atau  bapak-anak,  komunikasi antarkeluarga sehingga terjadi interaksi anak dengan lingkungannya.
2) Proses inkubasi adalah tahap berpikir kreatif dan pengatasan masalah (problem solving) dimana fungs mental yang tadinya digerakkan oleh persiapan yang direncanakan secara intensif sehingga tercapai pemahaman yang mengarah pada pemecahan masalah.  

e. Desain pembelajaran
Sebagaimana  kita  ketahui  bahwa  anak  berbakat  terus-menerus memerlukan  stimulus  untuk  mencapai  perkembangan  yang  optimal. Oleh karena  itu,  kita  perlu  merencanakan  desain  pembelajaran  yang  khusus. Renzulli mengemukakan bahwa langkah-langkah penting untuk diperhatikan dalam  mendesain  pembelajaran  adalah  sebagai  berikut:  Seleksi  dan  latihan guru,  pengembangan  kurikulum  untuk  memenuhi  kebutuhan  belajar  dalam segi akademik maupun seni, prosedur identifikasi jamak, pematokan sasaran program,  orientasi  kerja  sama  antarpersonel,  rencana  evaluasi,  dan peningkatan administratif.
Hal-hal  tersebut  dapat  dikelompokkan  menjadi  karakteristik  dan kebutuhan  belajar  anak,  persiapan  tenaga  guru,  pengembangan  kurikulum yang  sesuai  dengan  kebutuhan  anak, adanya  kerja  sama  antarpersonel,  pola administrasi, dan rencana evaluasi yang digunakan.
Selanjutnya, dalam menentukan alternatif pembelajaran M. Soleh (1996) mengemukakan  bahwa  ada  pilihan  khusus,  seperti  (1)  mengemas  materi bidang  studi  tertentu  agar  sesuai  dengan  kebutuhan  belajar  anak  berbakat, kemudian berangsur-angsur ke bidang studi lain; (2) melatih teknik mengajar tertentu kepada guru bidang studi seperti teknik pembelajaran pengembangan kreativitas;  dan  (3)  mencobakan  beberapa  model  pembelajaran  di  sekolah atau  daerah  tertentu  dan  jika  diperoleh  hasil  yang  baik,  kemudian menyebarluaskannya ke sekolah lain.

f. Evaluasi
Proses  evaluasi  pada  anak  berbakat  tidak  berbeda  dengan  anak  pada umumnya,  namun  karena  kurikulum  atau  program  pelajaran  anak  berbakat berbeda dalam cakupan dan tujuannya maka dibutuhkan penerapan evaluasi yang sesuai dengan keadaan tersebut.
Tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui ketuntasan belajar anak berbakat. Sehubungan dengan hal itu Conny Semiawan (1987, 1992) mengemukakan bahwa instrumen dan prosedur yang digunakan  mengacu pada ketuntasan belajar adalah pengejawantahan dari kekhususan layanan pendidikan anak berbakat, hasil umpan balik untuk keperluan tertentu, pemantulan tingkat kemantapan penguasaan suatu materi sesuai dengan sifat, keterampilan, dan kemampuan maupun kecepatan belajar seseorang. Model pengukuran seperti tersebut di atas adalah pengukuran acuan kriteria (criterion-reference). Sebaliknya ada pengukuran acuan norma yang membandingkan keberbakatan seseorang dengan temannya. Kedua cara tersebut tidak selalu menunjuk hasil akhir yang diinginkan, melainkan merupakan petunjuk bidang mana yang sudah dikuasai individu sehingga memberikan keterangan mengenai  taraf kemampuan yang dicapai tanpa tergantung pada kinerja temannya. Penting untuk diperhatikan bahwa sebaiknya disertai dengan saran mengenai model evaluasi yang perlu diterapkan,apakah tes atau nontes.        


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
        Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pemahaman yang memadai mengenai anak berbakat akan mendukung keberhasilan layanan pendidikan bagi anak-anak tersebut. Pengertian anak berbakat dalam perkembangannya telah mengalami perubahan dari pengertian  yang berdasarkan pada pendekatan faktor tunggal (berdasarkan IQ) ke pendekatan yang bersifat multi dimensional (faktor jamak). Faktor tunggal menggunakan kriteria keberbakatan berdasarkan inteligensia yang tinggi, sedangkan faktor jamak menggunakan kriteria keberbakatan tidak semata-mata  ditentukan oleh faktor inteligensia, tetapi juga hasil perpaduan atau hasil interaksi dengan lingkungan.
Demikian pula dalam memandang tentang karakteristik anak berbakat yang tidak hanya ditinjau dari keberbakatan akademik, tetapi ditinjau pula dalam keberbakatan sosial, emosional, penampilan dan pemeliharaan kesehatan. Anak berbakat pada umumnya memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan anak-anak normal sehingga mereka membutuhkan program dan layanan pendidikan secara khusus dengan melalui adaptasi pendidikan bagi anak-anak berbakat tersebut.
Kebutuhan pendidikan anak berbakat ditinjau dari kepentingan anak berbakat  itu  sendiri  adalah  yang  berhubungan  dengan  pengembangan potensinya  yang hebat. Untuk mewujudkan potensi yang hebat itu anak berbakat membutuhkan peluang untuk mencapai aktualisasi potensi yang dimilikinya melalui penggunaan fungsi otak, peluang untuk berinteraksi, dan  pengembangan  kreativitas  dan  motivasi  internal  untuk  belajar berprestasi. Dari segi kepentingan masyarakat, anak berbakat membutuhkan kepedulian, pengakomodasian, perwujudan lingkungan yang kaya dengan pengalaman,  dan kesempatan anak berbakat untuk berlatih secara nyata.

B. Saran
       Anak berbakat merupakan potensi lebih yang dimiliki oleh anak yang perlu dikembangkan. Pengembangan anak berbakat perlu dilakukan oleh dunia pendidikan yang lebih bermutu agar potensi-potensi luar biasa dapat tergali secara maksimal.

DAFTAR PUSTAKA
http://izzaucon.blogspot.co.id/2014/06/pendidikan-anak-berbakat.html Pendidikan anak berbakat, diakses pada tanggal 22 juli 2017 pukul 16.00WIB
http://natiwy.blogspot.co.id/2012/01/makalah-anak-berbakat.html oleh natiwy, Makalah Anak Berbakat, diakses pada tanggal 22 juli 2017 pukul 16.00WIB



LAPORAN KUNJUNGAN / OBSERVASI


LAPORAN KUNJUNGAN/OBSERVASI 
PANTI SOSIAL BINA LARAS HARAPAN SENTOSA 2 CIPAYUNG
UNTUK MELENGKAPI TUGAS MATA KULIAH
BIMBINGAN & KONSELING INDUSTRI



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
           Dalam dunia industri terdiri dari berbagai aspek salah satunya adalah Sumber Daya Manusia (SDM / Karyawan) yang notabene menjadi aspek paling penting dalam proses berjalannya suatu industri. Perubahan perilaku yang ditunjukan oleh SDM sedikit banyaknya akan berpengaruh terhadap keefektifan dan keefisiensian industri. 
Bimbingan & Konseling Industri merupakah suatu bentuk bimbingan dan layanan yang diberikan terhadap SDM dalam menyelesaikan masalah, dalam proses pengembangan potensi, dan dalam proses penempatan agar SDM dapat memberikan produktifitasnya secara maksimal sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Sehingga kami melakukan proses Bimbingan Konseling Industri di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 untuk memberikan bimbingan dan layanan terhadap SDM – SDM nya. Kami pula membuat laporan perihal hasil kunjungan indutri tersebut bertujuan untuk melengkapi tugas mata kuliah Bimbingan & Konseling Industri. 

B. Tujuan Kunjungan Industri 
  1. Melengkapi tugas Bimbingan dan Konseling Indutri.
  2. Memberikan Bimbingan dan Layanan kepada SDM (Karyawan) Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2.


C. Tujuan Pembuatan Laporan Kunjungan Industri 
       Melengkapi tugas Bimbingan dan Konseling Indutri.

D. Sasaran Dan Target
     Sasaran dan target dari kunjungi industi yang kami lakukan adalah Karyawan yang bekerja Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2. 

E. Waktu Dan Tempat 
1. Waktu
Hari dan Tanggal : Rabu, 8 November 2017 
Pukul         : 11.00 – 14.00 WIB
2.Tempat      :  Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2. Jl. Bina Marga  RT.7/RW.6, Cipayung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta – 13840 (021) 8445748

F. Metode Pengumpulan Data 
  1. Observasi
  2. Wawancara
  3. Foto
  4. Video

G.Pengelolaan Data 
         Data yang diolah dengan tahapan sebagai berikut :
  1. Data dikumpulkan
  2. Data diseleksi
  3. Konsultasi mengenai data yang dipilih sekaligus penentuan judul
  4. Membuat kerangka laporan kunjungan industri
  5. Mengembangakan kerangka laporan kunjungan industri
  6. Membuat konsep laporan kunjungan indutri
  7. Mengetik laporan kunjungan industri
  8. Mengevaluasi laporan kunjungan industri yang telah dibuat

BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Panti
     Panti Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung, beralamat di Jl. Raya Bina Marga Cipayung, Jakarta Timur. Panti ini berdiri tahun 1999 dengan Luas Lahan: 5.770 (m2), Luas Bangunan: 2.730 (m2). Panti Sosial Bina Laras  2 Cipayung Jakarta timur berdiri berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta no. CA/6/1/3/1972 bernama Selter Work Shop Panti Sosial Penyantunan Laras 2 Cipayung. Dengan berlakunya Perda no. 11 tahun 1988 tentang ketertiban umum, yang kemudian ditindak lanjuti oleh SK Gubernur DKI Jakarta No. 736 th 1996 tentang organisasi tentang organisasi dan Tata Kerja Panti Sosial Lingkungan Dinas Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung. Kemudian dengan berlakunya Perda 3 tahun 2001 tentang organisai dan tata kerja perangkat daerah dan sekretaris DPRD, dan melalui SK Gubernur Propinsi DKI Jakarta no. 41 tahun 2002 tentang pembentukan organisasi dan Tata kerja unit pelaksana teknis di lingkungan Dinas  Bintal Kesos Propinsi DKI Jakarta disempurnakan namanya menjadi Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung.

B. Penjelasan Umum Perusahaan 
       Panti Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung diselenggarakan untuk penyantunan /  rehabilitasi sosial penyandang cacat mental psikotik / eks psikotik terlantar. Jumlah ketenagaan/ staf di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung yaitu 43 orang tetapi yang terjun langsung memberikan perawatan 10 orang. Daya tampung WBS(warga binaan sosial): 250 (jiwa) Jumlah WBS Saat Ini: 498(jiwa)  .Jenis WBS / Klien adalah Penyandang cacat mental psikotik / gangguan jiwa / eks psikotik dengan tingkat gangguan sedang. Para penyandang cacat mental psikotik yang dirawat di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 Cipayung adalah para psikotik yang masih gelisah, bila WBS sudah proaktif akan diberikan bimbingan sosial keterampilan. WBS yang sudah mandiri akan dipindahkan ke Panti Jeger untuk meningkatkan keterampilan seperti keterampilan membuang sampah, beternak, menanam bunga dan lain sbagainya. Jenis Pelayanan yang ada di panti adalah Perawatan / penampungan Pembinaan mental Bimlat ketrampilan Kesehatan dan gizi Kesejahteraan sosial. Penyaluran kembali kepada keluarga Penyaluran kerja Pemulangan ke daerah asal Terminasi di panti Terminasi dilakukan bila WBS benar- benar sembuh ( mampu hidup normatif dan manusiawi tetapi karena adanya stigma di masyarakat bahwa orang yang mengalami gangguan jiwa tidak bisa sembuh total maka banyak keluarga yang menolak. Penerimaan yaitu rujukan dari instansi / lembaga sosial atau permohonan dari keluarga / masyarakat.

C. Proses Produksi / Pekerjaan 
1. Tahapan Pendekatan Awal 
       Pada tahap pendekatan awal dilaksanakan kegiatan sosialisasi program, penjangkauan calon klien, seleksi calon kien, penerimaan dan registrasi atau konferensi kasus : Tahap Pendekatan Awal Pihak panti akan menjemput anak jalanan yang berasal dari Rumah Dinas, Organisasi Sosial, Yayasan Sosial, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Kepolisian dan lainnya. Setiap calon klien memiliki case record untuk melakukan identifikasi awal penanganan anak jalanan. Setelah berada di Social Development Center for Street Children (SDC) di seleksi jika memenuhi criteria akan diterima dan melakukan regsitrasi dan selanjutnya akan disarankan di panti.
2. Tahap Assesment
     Pada tahap ini dilaksanakan kegiatan analisis kondisi klien, karakteristik masalah, sebab dan implikasi masalah, kapasitas mengatasi masalah dan sumber daya. Dalam tahap assesment kesehatan dilakukan cek medis, selanjutnya assesment dilakukan untuk psikologi psikotes mengtahui minat dan bakat anak jalanan, serta adanya wawancara untuk melihat kondisi klien dan untuk melakukan perencanaan intervensi mengenai masalah yang dihadapi oleh klien anak jalanan. 
3. Tahap Perencanaan Program Pelayanan 
      Pada tahap ini dilaksanakan kegiatan penetapan tujuan pelayanan, penetapan jenis pelayanan yang dibutuhkan oleh klien dari sumber daya yang akan digunakan. Perencanaan Intervensi Pada tahap perencanaan intervensi ini melibatkan klien, pekerja sosial, dan juga profesi lainnya agar pelaksanaan intervensi dapat sesuai dengan yang diinginkan. Semua klien anak jalanan mengikuti rangkaian seperti fisik, sosial, serta agama. Kemudian ada pembagian kegiatan untuk klien seperti keterampilan dan pendidikan.
4. Tahap Pelaksanaan Pelayanan 
     Dalam tahap pelaksanaan pelayanan terdapat beberapa bentuk kegiatan yang dapat diberikan sesuai kebutuhan, karakteristik, dan permasalahan klien, yaitu bimbingan fisik, mental, agama, sosial dan keterampilan.
Pelaksanaan Intervensi Proses rehabilitasi social untuk anak jalanan diberikan bimbingan– bimbingan seperti bimbingan fisik, agama, sosial dan juga pelatihan.
5. Tahap Pasca Pelaksanaan Rehabilitasi Sosial 
A. Bentuk pelaksanaan pelayanan rehabilitasi sosial terdiri dari: 
  • Penghentian Pelayanan: Penghentian pelayanan dilakukan klien mengikuti pelayanan mencapai pelayanan dengan yang ditetapkan. 
  • Rujukan: Kegiatan dilaksanakan apabila klien membutuhkan pelayanan lainnya yang tidak tersedia dalam panti
  • Pemulangan dan Penyaluran: Kegiatan pemulangan dan penyaluran dilaksanakan setelah klien dinyatakan berhenti atau selesai mengikuti proses pelayanan. Proses pemulangannya sendiri adalah ketika klien dipulangkan ke pihak keluarga. atau kepada sanak saudara. Proses penyaluran yaitu klien disalurkan pada perusahaan tempat kerja yang berminat mempekerjakan klien sesuai dengan bidang dan jenis keterampilan yang telah dimiliki klien. 
  • Pembinaan Lanjut: Berupa kegiatan untuk memonitor dan klien sesudah mereka kembali ke keluarga.


B. Terminasi,Penyaluran (Pemulangan), dan Monitoring (Bimbingan Lanjut)
  • Penyaluran: Sebelum pemulangan klien anak jalanan biasanya pihak SDC akan melakukan tracing dan bertanya kepada klien alamat rumah keluarga untuk memastikan alamat yang tepat dan sesuai pada saat pemulangan atau reintegrasi ke keluarga klien.
  • Terminasi: Terminasi dapat dilakukan jika klien telah mendapatkan pelayanan rehabilitasi sosial kemudian ada pemutusan pelayanan dari pihak SDC. 
  • Monitoring (Bimbingan Lanjut): Tahapan ini dilakukan setelah klien kembali ke keluarga (dipulangkan). Selanjutnya klien dilihat perkembangannya baik itu pekerjaannya ataupun melanjutkan sekolah dengan memberikan bantuan finansial kepada pihak klien.


D. Prosedur Karyawan 
      Berikut prosedur kerja karyawan pelayanan
  • menyusun  rencana dan program kerja Seksi;
  • memberikan petunjuk kepada bawahan;
  • menilai prestasi kerja bawahan;
  • memberikan layanan kesejahteraan sosial terhadap WBS bermasalah sosial untuk mengembangkan kecerdasan dan kemandirian;
  • mengupayakan pengembangan potensi WBS dengan pola terpadu dan kemitraan;
  • melaksanakan pelayanan/pembinaan terhadap WBS yang bermasalah sosial melalui motivasi bimbingan sosial dan keterampilan;
  • menjalin hubungan antara pegawai dengan WBS 
  • melaksanakan sistem pengendalian intern;
  • melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang ditugaskan oleh atasan; dan melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepda Kepala Panti.


E. Masalah Secara Umum Diperusahaan 
       Masalah secara umum yang dialami oleh karyawan di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 adalah stress dalam bekerja. Dimana stress kerja tersebut disebabkan oleh karyawan yang harus menghadapi berbagai masalah WBS (Warga Bina Sosial) dan Prosedure perusahaan atau alur kerja yang belum jelas sehingga setiap karyawan dapat mengerjaan pekerjaan yang seharusnya bukan tanggung jawab mereka. 
Layanan Koseling Karyawan : Konseling Individu, Bimbingan Kelompok, & Konseling Kelompok. 
1.  Konseling Individu
  Konseling individual adalah proses pemberian bantuan yang dialakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
2.  Bimbingan Kelompok
  Menurut Prayitno (1995: 61) bahwa “Bimbingan kelompok adalah memanfaatkan dinamika untuk mencapai tujuan-tujuan bimbingan dan konseling, bimbingan kelompok lebih menekankan suatu upaya bimbingan kepada individu melalui kelompok”. 
3.  Konseling Individu
   Menurut Prayitno (1995:62) menyatakan Bimbingan kelompok berarti memanfaatkan dinamika untuk mencapai tujuan-tujuan bimbingandan konseling. Bimbingan kelompok lebih merupakan suatu upaya bimbingan kepada  individu –individu melalui kelompok.


BAB III
PENUTUP
A. Simpulan 
       Dapat kami simpulkan perihal kunjungan industri yang telah kami lakukan dalam proses pemberian layanan terhadap karyawan Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 adalah untuk mengetahui masalah – masalah yang dialami oleh karyawan, memberikan layanan sesuai kebutuhan karyawan, sehingga dapat membantu membangkitkan produktifitas karyawan dalam berbagai aspek seperti, penanganan stress karyawdalam bekerja dan meningkatkan motivasi dalam bekerja. 
B. Saran 
         Saran dari kami adalah proses kunjungan industri di  Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 2 dalam pemberian layanan seyogyanya dapat di lakukan secara berkala atau adanya tindak lanjut oleh pihak – pihak yang berkompeten (Konselor). Proses tindak lanjut akan membantu karyawan menyelesaikan masalah – masalah yang muncul dalam proses bekerja sehingga akan membantu karyawan terhindar dari berbagai stress kerja yang dialami.


Lampiran:
1.Bersama dengan Para Pegawai dan WBS setelah melakukan konseling
2.WBS sedang melakukan kegiatan menggambar
3.Berama dengan pegawai setelah melakuakn Konseling Kelompok
4.Bersantai dengan WBS



Sekian...
Semoga bermanfaat..

MAKALAH - INSTRUMEN TEST PSIKOLOGI

MAKALAH
INSTRUMEN TEST PSIKOLOGI



KATA PENGANTAR

     Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam, yang telah memberikan rahmat, taufiq, dan hidayahnya sehingga kita masih diberi kenikmatan iman dan ilmu untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Sholawat teriring salam selalu kita hantarkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, karena berkat perjuangan beliaulah yang telah membawa kita ke zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan pada saat ini.
        Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata kuliah “Instrumen Tes”. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sehingga ke depannya dapat menjadi lebih baik lagi. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua Amin.

Jakarta, 25 Juli 2018


Penulis

RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING (CONTOH)



Annyeong Haseyo!!







RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

(BENTUK KLASIKAL)

1. Identitas
a. Satuan Pendidikan               : SMA GARUDA JAKARTA
b. Tahun Ajaran                       : 2016/2017
c. Kelas                                   : XI (Sebelas)
d. Pelaksana dan Pihak Terkait : Guru BK & Siswa

2. Waktu
a. Tanggal                                : 9 Januari 2016
b. Jam Pelayanan                     : 08.00 s.d selesai
c. Volume Waktu                      : (1 x 45 Menit)
d. Tempat                                : Ruang Aula SMA GARUDA

3. Bidang Bimbingan dan Konseling : Pribadi
4. Materi Pelayanan
a. Tema                                   : Motivasi Belajar
b. Sumber Materi Pelayanan     : Internet

5. Tujuan Layanan
a. Siswa/i dapat memahami pentingnya Motivasi Belajar
b. Siswa/i dapat memahami manfaat Motivasi Belajar
c. Siswa/i dapat membangun Motivasi Belajar

6. Fungsi Layanan                   : Pemahaman
7. Metode dan Teknik
a. Jenis Layanan                      : Layanan Informasi
b. Kegiatan Pendukung             : -

8. Sarana
a. Media                                  : Laptop, LCD Projector etc.
b. Instrumen                            : -
c. Sumber                                : Milik Sendiri dan Meminjam di Sekolah

9. Sasaran Penilaian                : Menggunakan instrument : Laiseg, Laijapen
dan Laijapang

10. Langkah Kegiatan  :
a. Pendahuluan (15 menit)
  • Guru BK/Konselor mengucapkan salam, dilanjutkan dengan berdo’a, presensi, mengecek situasi & kondisi kelas.
  • Guru BK/ Konselor menyampaikan topik / tema layanan informasi
  • Guru BK/Konselor memotivasi dengan Ice Breaking : agar siswa senang, tertarik, bersemangat, siap mengikuti layanan informasi
  • Guru BK/Konselor menjelaskan tujuan layanan informasi dan tugas perkembangan yang akan dipahami

b. Kegiatan Inti (60 menit)
1) Berfikir
  • Guru BK/Konselor mengajak berfikir dengan siswa tanya jawab seputar Motivasi Belajar
  • Guru BK/Konselor mengajak curah pendapat pada siswa tentang tema Motivasi Belajar

2) Merasa
  • Guru BK atau Konselor mengadakan diskusi bersama siswa terkait perasaannya yang mereka hadapi dalam memahami Ekspolrasi bakat secara mandiri
  • Guru BK atau Konselor memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya/komentar mengenai hal yang belum dapat dipahami dan memberikan ide atau gagasan yang ingin disampaikan/ dirasakan.

3) Bersikap
  • Guru BK /Konselor menanyakan pada siswa apa saja yang telah ia ambil sikap terhadap Motivasi Belajar Guru BK /Konselor memberi kesempatan pada siswa lainnya menanggapi/mensikapi pertanyaan siswa lainnya.

4) Bertindak
  • Guru BK /Konselor menanyakan pada siswa apa saja yang telah ia ambil tindakan pada pemahaman Motivasi Belajar
  • Guru BK /Konselor memberikan motivasi pada siswa yang belum bertindak aktif, positip dalam memahami Motivasi Belajar.
5) Bertanggung jawab
  • Guru BK/Konselor memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya/komentar mengenai hal yang belum dapat dipahami dan memberikan ide atau gagasan yang ingin disampaikan/dirasakan, untuk mengambil sikap bertaggungjawab.
  • Guru BK/Konselor menanyakan pada siswa apa saja yang telah ia ambil tindakan yang dapat dipertanggung jawabkan dalam memahami Motivasi Belajar

c. Penutup (30 menit)
1. Kesimpulan
  • Guru BK /Konselor bersama-sama dengan siswa menyimpulkan isi tema yang telah disampaikan.
  • Guru BK /Konselor mendorong siswa agar yang belum berperan aktif dalam kegitan, supaya berperan aktif

2. Refleksi (Peserta didik)

11. Rencana Penilaian :
a. Penilaian Proses       :
Guru BK/Konselor melakukan penilaian segera terhadap proses pelaksanaan layanan informasi format klasikalnya, yaitu menilai kesungguhan/ semangat /antusias konseli.

b. Penilaian Hasil         :
Guru BK/Konselor melakukan penilaian segera terhadap proses pelaksanaan
layanan informasi format klasikalnya, yaitu :
1) Laiseg :
  • Menilai penguasaan materi melalui tanya jawab (pengetahuan/understanding)
  • Menilai sikap/ perasaan positif melalui pengamatan dan tanya jawab (Comfortable)
  • Menilai ketrampilan/rencana tindakan (action) melalui tanya jawab dan hasil karya (tugas kelompok tentang rencana tindakan cara mengatasi )

2) Laijapen :
Menilai sejauh mana siswa dapat mengaplikasikan (setelah siswa melaksanakan layanan bimbingan dengan strategi klasikal)

3) Laijapang :
Menilai sejau mana siswa bener-bener konsisten dalam melaksanakan layanan bimbingan dengan strategi klasikal (jangka panjang).

12. Catatan Khusus
Konseli yang mengalami KES-T dan membutuhkan bantuan, maka Konselor atau guru BK segera memberikan layanan sesuai jenis layanan Bimbingan dan Konseling.


Jakarta, 1 Januari 2019
Mengetahui,


Kepala Sekolah                                                   Guru BK



   

(............................................)                       (..................................)

LAMPIRAN-LAMPIRAN
1. Uraian Materi
2. Lembar kerja siswa
3. Instrumen Penilaian
4. Media


Sekian... 💚💚💚
#semogabermanfaat #konselingmasakini #konsleingmilenial

Jumat, 08 Februari 2019

ANALISIS - DISIPLIN SEORANG KARYAWAN by LAYANAN KONSULTASI


Annyeong!! 😊

TUGAS INDIVIDU
- Study Case -
"Disiplin seorang Karyawan"
Bimbingan dan Konseling





BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
         Dalam usaha mencapai tujuan perusahaan, permasalahan yang dihadapi oleh manajemen semakin kompleks seiring dengan perkembangan teknologi di era globalisasi ini. Disiplin merupakan fungsi operatif dari manjemen sumber daya manusia yang terpenting, karena semakin baik disiplin karyawan semakin tinggi prestasi kerja dapat dicapainya. Tanpa disiplin yang baik, sulit bagi organisasi mencapai hasil yang optimal. Pada umumnya apabila orang memikirkan tentang disiplin, yang terbayang adalah berupa hukuman hanya sebagaian dari seluruh persoalan disiplin. Dengan disiplin kerja yang baik diharapkan akan terwujudnya lingkungan yang tertib, berdaya guna dan berhasil guna melalui seperangkat peraturan yang jelas dan tepat. Umunya disiplin ini dapat dilihat dari indikator seperti karyawan datang ke tempat kerja tepat waktu, berpakaian rapi,  sopan, memperhatikan etika cara berpakaian sebagaimana mestinya seorang pegawai, karyawan menggunakan alat-alat dan perlengkapan sesuai ketentuan, mereka bekerja penuh semangat dan bekerja sesuai dengan aturan yang ditetapkan perusahaan. Kebiasaan-kebiasaan di atas akan terwujud kalau para karyawannya mempunyai disiplin yang baik. Penanaman disiplin ini tentunya perlu diterapkan oleh seorang pemimpin terhadap bawahannya untuk menciptakan kinerja atau kualitas kerja yang baik. Penerapan disiplin kerja di lingkungan kerja memang awalnya akan dirasakan berat oleh para pegawai, tetapi apabila terus menerus diberlakukan akan menjadi kebiasaan dan disiplin tidak akan menjadi beban berat bagi para pegawai. Disiplin ini perlu diterapkan di lingkunagn kerja, karena seperti telah disinggung di atas bahwa disiplin tidak lahir begitu saja, tetapi perlu adanya pembinaan dalam menegakkan disiplin kerja ini.


BAB II
PEMBAHASAN
1. IDENTITAS UMUM
       Namanya adalah RG ia adalah seorang team leader di salah satu perusahan di Jakarta, ia sudah sekitar 6 bulan menjabat sebagai team leader dengan mananugi 16 karyawan (Agent call center), beliau sering bercerita bahwa memiliki seorang anak (agent) yang kurang disipilin terhadap kinerja/tanggungjawabnya (sering late, membolos, dsb) hal ini membuat RG ingin memperbaiki pola kedisipilinan dari si anaknya tersebut, karena bagaimanapun hal tersebut sangat berpangaruh terhadap performance teamnya. Menurutnya, pemberian punshinment sudah diberikan akan tetapi tidak nampak perubahan yang signifikan oleh karena itu saya akan coba memberikan beberpa analisa yang mungkin dapat digunakan RG. 

2. IDENTITAS PIHAK KETIGA
Dia adalah seseorang yang memiliki masalah dan kemudian masalahnya dipersoalkan oleh konsulti. sebut saja namanya YB, Ia merupakan salah satu karyawan disebuah perusahan swasta di Jakarta yang bergerak dibidang jasa sebagai agant call center, YB sudah bergabung menjadi call center agent hampir satu tahun namun dari pandangan konsulti bahwa YB adalah salah satu anaknya yang sangat outlier, iya berbeda dengan karyawan yang lainnya, jika karyawan lain ingin menunjukan kinerjanya agar bisa mendapatkan jenjang karir yang baik namun YB tetap terdiam di zonanya. 

3. GAMBARAN KONKRIT MASALAH
Karyawan merupakan aset dan roda penggerak bagi perusahaan untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan. Dalam mempekerjakan karyawan, perusahaan tidak cukup hanya membutuhkan karyawan yang berkompeten dari aspek skill, namun juga dari sisi sikap mereka.
Salah satu permasalahan yang banyak ditemukan oleh perusahaan mengenai sikap negatif karyawan yakni seringnya absen tanpa keterangan/informasi, terlambat dsb.
Karyawan memang berhak untuk mengajukan izin atau absen, namun absen yang berlebihan apalagi tanpa keterangan justru akan menghambat kinerja mereka sendiri dan juga perusahaan.
Diambil dari data absensi perusahan bahwa karyawan yang bernama YB, memang memiliki histori absen yang sangat buruk pada kurun waktu 6 bulan saja iya tercatat sebagai salah satu karyawan yang paling banyak Lateness yaitu dengan jumlah 42 kali, bisa dibayangkan dalam 1 bulan dia bisa terlambat kurang lebih 7 kali. Melihat data tersebut tentu sangat menjadi perhatian perusahan, Oleh karena itu konsulti yang bernama RG sangat ingin membantu masalah yang dialami oleh bawahannya agar siklus kerja yang dialaminya menjadi lebih baik tentunya tidak merusak performance teamnya.

A. ARAH PENANGANAN
1. Pendekatan atau metode atau keterampilan konseling yang digunakan
a) Pendekatan
      Berbicara tentang pendekatan, tentu saja ada pendekatan yang harus digunakan untuk menyelsaikan permasalahan pihak ketiga. Karena berbeda dengan konseling perorangan sehingga pendekatan akan dimulai pada konsluti terlebih dahulu, seperti  yang kita tahu bahwa konsultilah yang berperan sangat penting untuk menyelsaikan permasalahan pihak ketiga dan melalui perantara konsulti penanganan masalah pihak ketiga dapat dilakukan tentunya setelah konsluti melakukan konsultasi dengan konselor. Kemudian dilanjutkan dengan pendekatan berikutnya akan dilakukan dalam dua tahapan;
Tahap pertama: akan dilakukan proses konsultasi antara konsulti dengan konselor
Tahap kedua : akan dilakukan proses penanganan masalah oleh konsulti kepada pihak ketiga (Siregar and Fitriyanti 2017)

b) Keterampilan Konseling
      Untuk penanganan masalah pihak ketiga konselor dapat menggunakan metode 3-M yakni (Mendengar dan memperhatikan, memahami serta merespon secara tepat dan positif)
  • Mendengar dan memperhatikan, maksudnya adalah ketika proses konsultasi berlangsung konselor dapat menangkap dari isi pembicaraan, makna pembicaraan, latar dapan dan belakang pembicaraan serta cara konsulti menyampaikan isi pembicaraan
  • Memahami, maksudnya adalah ketika proses konsultasi berlangsung konselor haarus dapat memahami dari apa yang didengar dan dikatakan oleh konsulti serta mampu mengkomunikasikan pemahaman konselor kepada konsulti.
  • Merespon secara tepat dan positif, maksudnya adalah konselor dapat memberikan tanggapan dengan tepat merespon permaslahan yang dialami pihak  ketiga. (Suwandi 2017)


2. Kegiatan Pendukung
  • Aplikasi instrumentasi

     Untuk dapat manangani masalah pihak ketiga RG (Team Leader) yang bertindak sebagai konsulti perlu setidaknya memberikan pengumuman tentang punishment dan rewards hal tersebut dapat berguna untuk membuat karayawan termotivasi dan jera.
  • Konferensi Kasus

        Untuk lebih mendalami permasalahan pihak ketiga tidak ada salahnya jika diadakan konferensi kasus, dari konferensi kasus konsulti dan atasan yang terlibat lainnya dapat melakukan analisis dari permaslahan pihak ketiga, mencari tahu penyebab mengapa iya sering terlambat dsb. Dengan demikian proses konsultasi menjadi lebih efektif.

3. Pentahapan Layanan
a) Perencanaan
Mengidentifikasi konsulti
Mengatur pertemuan
Menetapkan fasilitas layanan
Menyiapkan kelengkapan administrasi

b) Pelaksanaan
Menerima konsulti
Menyelenggarakan penstrukturan konsulti
Membahas masalah pihak ketiga yang dibawa konsulti, dengan tujuan agar konsulti dapat mampu menangani masalah yang dialami pihak ketiga dan dapat memanfaatkan sumber-sumber yang ada
Membina komitmen konsulti untuk dapat menangani masalah pihak ketiga dengan bahasa dan cara-cara konseling

c)Evaluasi
Evaluasi perlu dilakukan untuk mengetahui keterlaksanaan hasil konsultasi.

d)Analisis hasil konsultasi
Analisis juga perlu dilakukan agar dapat menafsirkan hasil dari evaluasi dalam kaitannnya antara konselor, konsulti dan pihak ketiga itu sendiri.

e)Tindak Lanjut
Hal ini juga perlu dilakukan untuk konsultasi lanjutan dengan konsulti untuk membicarakan hasil evaluasi agar dapat menentukan arah dan tindakan selanjutnya.

f)Laporan
Laporan ini perlu dibuat untuk membicarakan laporan yang diperlukan oleh konsulti dan mrndokumentasikan laporan layanan konsultasi. (Ayii 2013).

4. Penilaian
a. Penilaian Proses
Menilai kesungguhan/ semangat / antusias konsulti ketika layanan berlangsung.

b. Penilaian Hasil
Konselor  melakukan penilaian segera terhadap proses pelaksanaan layanan konsultasi:
1) Laiseg
  • Menilai penguasaan materi melalui tanya jawab (pengetahuan/understanding). Dilakukan oleh keonselor kepada konsulti
  • Menilai sikap atau perasaan positif melalui pengamatan dan tanya jawab (Comfortable)
  • Menilai keterampilan/rencana tindakan (action) melalui tanya jawab.

2) Laijapen
Menilai sejauh mana konsulti dapat mengaplikasikan hasil layanan konsultasi kepada pihak ketiga, apakah hasil layanan yang diberikan dapat memberikan dampak kepada pihak ketiga (tepat sasaran).
3) Laijapang
Menilai sejauh mana konsulti bener-bener konsisten dalam melaksanakan hasil layanan konsultasi, apakah sudah terjadi perubahan tingah laku terhadap pihak ketiga, apakah sudah ada perbaikan terhadap masalah pihak ketiga dalam hal ini pihak ketiga sudah dapat mengurangi atau tidak pernah lagi terlambat dalam bekerja.


B. DISKUSI
1. Pengertian Disiplin
      Disiplin kerja dibicarakan  dalam konotasi yang sering kali timbul bersifat negatif. Disiplin lebih dikaitkan dengan sangsi atau hukuman. Contohnya:  bagi karyawan  Bank, keterlambatan masuk kerja (bahkan  dalam satu menit pun) berarti pemotongan gaji yang disepadankan   dengan  tidak masuk  kerja pada hari itu.(Helmi, 1996).
       Disiplin dalam arti yang positif seperti yang dikemukaan  oleh beberapa ahli berikut ini. Hodges (dalam Yuspratiwi,  1990) mengatakan  bahwa disiplin dapat diartikan sebagai sikap seseorang  atau kelompok  yang berniat untuk mengikuti  aturan-aturan  yang telah ditetapkan. Dalam kaitannya  dengan pekerjaan,  pengertian  disiplin kerja adalah suatu sikap dan tingkah laku yang menunjukkan ketaatan karyawan terhadap peraturan organisasi.
     Berdasarkan uraian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa disiplin kerja merupakan   suatu sikap dan perilaku yang berniat untuk mentati segala  peraturan   organisasi    yang  didasarkan atas  kesadaran  diri  untuk menyesuaikan dengan peraturan organisasi. (Helmi, 1996). Berdasarkan  pengertian  tersebut dapat ditarik indikator-indikator disiplin kerja sebagai berikut:
  • Disiplin kerja tidak semata-mata patuh dan taat terhadap penggunaan jam kerja saja, misalnya datang dan pulang sesuai dengan jadwal, tidak mangkir jika bekerja, dan tidak mencuri-curi waktu
  • Upaya dalam mentaati peraturan tidak didasarkan  adanya perasaan takut,atau terpaksa
  • Komitmen dan loyal pada organisasi/perusahan yaitu tercermin dari bagaimana sikap dalam bekerja.

2. Macam-macam Disiplin  Kerja
        Ada dua macam disiplin kerja yaitu disiplin diri (self-disclipine)dan disiplin kelompok.
a. Disiplin Diri
      Disiplin diri menurut Jasin (1989) merupakan disiplin yang dikembangkan atau dikontrol oleh diri-sendiri. Hal ini merupakan manifestasi atau aktualisasi dari tanggungjawab pribadi, yang berarti mengakui dan menerima nilai-nilai yang adadi luar dirinya. Melalui disiplin diri, karyawan merasa bertanggungjawab dan dapat mengatur diri sendiri untuk kepentingan organisasi.
      Disiplin diri merupakan hasil proses belajar (sosialisasi)  dari keluarga dan masyarakat. Penanaman nilai-nilai yang menjuniung disiplin, baik yang ditanamkan oleh orang tua, guru, atau pun masyarakat merupakan bekal positif bagi tumbuh dan berkembangnya disiplin diri.       
b.Disiplin  Kelompok.
         Kegiatan organisasi bukanlah kegiatan yang bersifat individual semata selain disiplin diri masih diperlukan disiplin kelompok. Hal ini didasarkan atas pandangan bahwa didalam kelompok kerja terdapat standar ukuran prestasi yang telah ditentukan. 

3. Faktor-faktor Disiplin Kerja
      Disiplin  kerja merupakan  suatu sikap dan perilaku.  Pembentukan   perilaku jika dilihat dari formula Kurt Lewin adalah interaksi antara factor kepribadian dan faktor lingkungan(situasional).
a. Faktor Kepribadian.
     Faktor yang  penting dalam kepribadian seseorang adalah sistem nilai yang dianut Sistem nilai dalam hal ini yang berkaitan langsung dengan disiplin. Nilai-nilai yang menjunjung  disiplin yang diajarkan atau ditanamkan  orang tua, guru, dan masyarakat akan digunakan  sebagai kerangkaacuan bagi penerapan disiplin di tempat kerja Sistem nilai akan terlihat dari sikap seseorang. Sikap diharapkan  akan tercermin dalam perilaku.
Perubahan  sikap ke dalam perilaku terdapat 3 tingkatan menurut Kelman (Brigham,
1994).
  • Disiplin karena kepatuhan.

       Kepatuhan terhadap aturan-aturan yang didasarkan atas dasar perasaan takut. Disiplin kerja dalam tingkat ini dilakukan semata untuk mendapatkan  reaksi positif dari pimpinan  atau atasan yang memiliki  wewenang.  Sebaliknya, jika pengawas tidak ada di tempat, disiplin kerja tidak tampak.
  • Disiplin karena identifikasi.

     Kepatuhan aturan yang didasarkan pada identifikasi adalah adanya perasaan kekaguman atau penghargaan pada pimpinan. Pemimpin  yang kharismatik  adalah figur yang dihormati, dihargai, dan sebagai pusat identifikasi. Karyawan yang menunjukkan disiplin terhadap aturan-aturan organisasi bukan disebabkan karena menghormati aturan tersebut tetapi lebih disebabkan keseganan pada atasannya. Karyawan merasa tidak enak jika tidak mentaati  peraturan. Penghormatan dan penghargaan karyawan pada pemimpin dapat disebabkan karena kualitas kepribadian yang baik atau mempunyai kualitas profesional yang tinggi dibidangnya Jika pusat identifikasi ini tidak ada, maka disiplin kerja akan menurun, pelanggaran  meningkat frekuensinya.
  • Disiplin karena imemalisasi.

        Disiplin kerja dalam tingkat ini terjadi karena karyawan mempunyai  sistem nilai pribadi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kedisiplinan. Dalam taraf ini, orang dikategorikan  telah mempunyai disiplin diri. 

b. Faktor  Lingkangan
        Disiplin kerja yang tinggi tidak muncul begitu saja tetapi merupakan  suatu proses belajar yang terus-menerus. Proses pembelajaran agar dapat efektif maka pemimpin yang merupakan agen pengubah perlu memperhatikan prinsip-prinsip konsisten, adil, bersikap positif, dan terbuka Konsisten adalah memperlakukan aturan secara konsisten dari waktu ke waktu. Sekali aturan yang telah disepakati dilanggar maka rusaklah sistem aturan tersebut. Adil dalam hal ini adalah memperlakukan seluruh karyawan dengan tidak membeda-bedakan.

4.Tindakan Pendisiplinan
          Disiplin kerja selain dipengaruhi faktor lingkungan kerja (bagaimana budaya disiplin dalam organisasi tersebut) juga dipengaruhi oleh factor kepribadian, maka ketidakhadiran salah satu faktor akan menyebabkan pelanggaran aturan. Jika salah satu karyawan melanggar maka  perlu dilakukan upaya-upaya tindakan pendisiplinan agar prinsip-prinsip sosialisasi disiplin seperti adil dapat dipertahankan.
      Berdasarkan berbagai pengalaman dan pengamatan diorganisasi, pelanggaran terhadap aturan-aturan terjadi sepanjang masa adalah fenomena yang tidak dapat dipungkiri. Peraturan yang dibuat agar dapat berfungsi secara efisien dan efektif perlu ditegakkan dengan cara melakukan tindakan-tindakan dalam upaya pendisiplinkan karyawan. Tindakan pendisiplinan dilakukan  dalam rangka pembinaan dan bukannya penghukuman.
      Tindakan pendisiplinan dapat dilaksanakan dengan menggunakan prinsip dari progressive discipline. Prinsipnya adalah :
  • Hukuman untuk pelanggaran pertama lebih ringan daripada pengulangan  pelanggaran;
  • Hukuman  untuk pelanggaran kecil lebih ringan dari pelanggaran berat.

        Adapun cara-cara yang dapat diterapkan melalui konseling (diskusi informal, teguran lisan, teguran tertulis, skorsing, dan pemberhentian  kerja)

Uraian!!
         Dari penjelasan diatas mengenai teori-teori tentang disiplin dapat kita lihat dan simpulkan bahwa betapa pentingnya kesadaran individu dan lingkungan untuk tetap menjungjung dan menciptakan budaya disiplin pada dunia industry, karena pada dasarnya semua perusahaan sangat menginginkan/mengharapkan karyawannya menjadi yang terbaik, yang patuh terhadap peraturan perusahan dan tentunya dapat menunjukan kinerjanya yang kemudian dapat berkontribusi terhadap target-target perusahan itu sendiri. 
       Melihat buruknya performance salah satu karyawan akan sangat berpengaruh terhadap tujuan perusahan itu sendiri. Disini saya lampirkan data absentisem salah satu karyawan tempat (YB) berkerja, yang dimana dalam interval 6 bulan dia  terlambat sebanyak 42 kali, meski banyak karyawan-karyaawan yang lain, yang mengalami kondisi sama dengan YB  namun RG selaku team leader sangat ingin membantu/membuat YB untuk tidak terlambat lagi. (data absensi karyawan terlampir).

   Melihat data diatas kami selaku penganalisa ingin memberikan beberpa saran yang  kami dapatkan dari beberbagai sumber, kemudian dapat dipergunakan RG untuk membantu menyelesaikan masalah YB, berikut informasinya:
1. Cari tahu penyebabnya
         Ketika ada karyawan yang bermasalah, mungkin cara paling mudah dan praktisnya adalah dengan menjatuhkan sanksi. Sejumlah perusahaan di sini ada yang mengancam karyawan yang terlambat dengan memotong gaji, uang makan, atau hak cuti dengan tujuan untuk membuat  jera. Namun, sebenarnya masalah yang sama sangat mungkin terulang jika HRD atau para atasan tidak tahu pasti apa penyebab di balik kebiasaan buruk karyawan tersebut.
       Sesungguhnya, cara paling efektif untuk menemukan akar permasalahan adalah dengan menggunakan pendekatan personal, yakni tidak ada salahnya RG selaku team leader secara langsung mengkomunikasikan perihal tersebut dengan "si pelaku". Sebab, bisa jadi kebiasaan karyawan ini dipicu oleh masalah pribadi yang serius, atau bahkan masalah dari dalam perusahaan itu sendiri.

2. Mencari solusi bersama
       Setelah akar permasalahannya ditemukan, coba tawarkan solusi berupa langkah-langkah yang bisa diambil oleh karyawan untuk mengubah kebiasaannya. Misalnya, jika penyebab dia sering terlambat adalah karena lalu lintas menuju kantor, Anda bisa bantu mencarikan alternatif transportasi lain atau missal meminta dia untuk kost. Namun jika hal tersebut tidak memungkinkan, maka perusahaan bisa mempertimbangkan untuk memberinya opsi jam kerja lain.
        Di perusahaan rintisan khususnya, hal yang demikian harusnya bukan masalah besar. Selama karyawan mampu  bersikap komunikatif, dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik, serta memiliki komitmen terhadap perusahaan dan timnya, seharusnya hal itu tak akan jadi masalah.

3. Monitor secara aktif
        Anda tentu tidak mungkin setiap saat mengingatkan karyawan agar tiba di kantor tepat waktu. Apalagi kalau jabatan anda harus memikirkan karyawan lain yang harus ditangani. Akan tetapi, setidaknya Anda bisa membuat pengecualian kepada karyawan-karyawan yang memang perlu dipantau atau membutuhkan perhatian khusus.
Untuk upaya maksimal, sebaiknya Anda aktif berkoordinasi dengan supervisor atau rekan satu divisi karyawan tersebut. Setelah itu, lakukan review secara berkala serta berikan feedback atas kemajuan si karyawan, sehingga dia sadar bahwa perusahaan menanggapi persoalan ini dengan sungguh-sungguh.

4. Beri Sanksi/Hukuman
       Pemberian sanksi atau hukuman sangat diperlukan agar dapat membuat para karyawan lebih disiplin atau takut melakukan hal tesebut, hukuman disini bukanlah hukuman yang sekiranya dapat mereka terima kemudian diabaikan begitu saja, sebagai atasan tidak ada salahnya anda memberikan hukuman yang spesifik terhadap bawahan anda, misalnya jika  dia  terus terlambat anda dapat memberikan peringatan berupa surat teguran sampai kepada pemberian surat pengeluaran.

5. Beri penghargaan
     Jika ada sanksi dan hukuman, maka harus ada pula penghargaan. Pemberian penghargaan alias reward oleh perusahaan penting dilakukan agar setiap karyawan mau bekerja lebih giat dan semangat untuk meningkatkan performanya. Nah, hal yang sama juga bisa diterapkan dalam menangani kasus karyawan yang sering datang terlambat. Manajemen dapat memberikan penghargaan secara rutin kepada karyawan-karyawan berprestasi atau yang paling disiplin.
Penghargaan ini tak mesti berupa insentif besar seperti yang banyak diterima oleh pekerja sales. Imbalan sederhana seperti voucher belanja atau makan, hingga piagam penghargaan pun bisa memacu hasrat berkompetisi karyawan untuk menjadi yang terbaik.

6. Evaluasi aturan perusahaan
        Jika kebiasaan datang terlambat tidak lagi dilakukan oleh segelintir karyawan saja, melainkan banyak karyawan dari berbagai divisi, maka ini saatnya mengevaluasi aturan-aturan yang diberlakukan oleh perusahaan itu sendiri. Bisa jadi ketentuan jam kerjanya memang terlalu pagi untuk karyawan, atau tingginya load kerja membuat mereka harus sering lembur sehingga kehabisan tenaga untuk beraktivitas dengan maksimal esok harinya.
       Sesungguhnya tak selamanya aturan yang lebih ketat itu lebih baik. Jika keadaan memang memaksa, tidak ada salahnya Anda ringankan kebijakan perusahaan yang sudah ada. Misalnya, memperbolehkan karyawan kerja remote selama bisa berkomitmen dengan tugas-tugasnya, atau membuat aturan jam kerja yang lebih longgar, di mana karyawan boleh datang ke kantor jam berapa saja asalkan memenuhi total jam kerja yang ditentukan.
        Hal terakhir yang tak kalah penting, perusahaan juga perlu menanamkan kesadaran dalam diri setiap karyawan akan pentingnya tugas-tugas dan tanggung jawab mereka. Bekerja dengan baik dan bertanggung jawab tak hanya bermanfaat bagi perkembangan dan keberlangsungan perusahaan, tapi juga bagi kemajuan diri karyawan itu sendiri. (Beritagar.id 2017).
       Itulah saran-saran yang dapat saya berikan semoga dapat membantu menyelesaikan permasalahan YG selaku pihak ketiga.



BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
       Disiplin di tempat kerja tidak hanya semata-mata patuh dan taat terhadap  sesuatu yang kasat mata, seperti penggunaan seragam kerja, datang dan pulang sesuai jam kerja, tetapi juga patuh dan taat terhadap sesuatu yang tidak kasat mata tetapi juga melibatkan komitmen, baik dengan diri sendiri ataupun komitmen dengan organisasi (kelompok kerja). Jika dikaitkan dengan tujuan organisasi, maka disiplin kerja pada dasamya merupakan upaya untuk menyesuaikan diri dengan aturan organisasi sehingga tercapai tujuan organisasi. Hal itu berarti, terpenuhinya standar ukuran prestasi. Hal ini sesuai dengan pengertian disiplin kerja yaitu suatu sikap dan perilaku yang berniat untuk mentaati segala peraturan organisasi yang didasarkan atas kesadaran diri untuk menyesuaikan dengan peraturan organisasi.  Disiplin kerja merupakan sarana untuk mencapai tujuan organisasi. 

B. Saran
  1. Dalam berkerja harus mematuhi aturan yang ada dalam perusahaan.
  2. Disiplin seharusnya dimulai dari masing-masing individu sehingga dapat menciptakan sumber daya manusia yang unggul.
  3. Diharapkan setiap karyawan mempunyai motivsi kerja yang tinggi dalam berkerja.
  4. Untuk pemberian sanksi atau hukuman terhadap pelanggaran disiplin kerja seharusnya juga harus benar-benar melihat kesalahan yang dilakukan oleh karyawan tersebut.



DAFTAR PUSTAKA

Ayii, Tharie. Guidance and Counseling, Layanan Konsultasi BK. February 27, 2013. http://counselingndut.blogspot.co.id/2013/02/layanan-konsultasi-bk.html (accessed February 11, 2018).
Beritagar.id. 5 cara menangani karyawan yang sering telat. Juni 22, 2017. https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/5-cara-menangani-karyawan-yang-sering-telat (accessed February 15, 2018).
Helmi, A. F. (1996). Disiplin Kerja. Buletin Psikologi, 4(2), 32–41. https://doi.org/10.22146/bpsi.13484
Siregar, Yulinda, and Evi Fitriyanti. Konseling Format Khusus. Jakarta, 2017.
Suwandi, Achmad. TEKNIK DAN PRAKTIK LABORATORIUM KONSELING. JAKARTA: MUJAHID PRESS BANDUNG, 2017.


Sekian!!!
Semoga bermanfaat ya gaess.....
#Konselingdimatamilenial #konselormuda 💚💚💚💚

MAKALAH - PERENCANAAN TES HASIL BELAJAR

Guyss... Kali ini gw bakal share materi tentang Perencanaan Tes Hasil Belajar. Jadi buat kalian yang sudah atau ingin menjadi guru hal ini penting loh!!!
Perencanaan Tes Hasil Belajar bisa kalian gunakan saat kalian misal ingin mengadakan ulangan harian dsb. dan tentu harus direncanakan yahhh... 😊😊


MAKALAH - BK BELAJAR

MAKALAH "BK BELAJAR" BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada dasarnya bimbingan belajar adalah inti dar...